PN PP Vonis Residivis Pengedar Narkoba 7 Tahun Penjara

- Redaktur

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RN, Pulang Pisau – Seorang residivis narkotika yang kembali tertangkap tangan menguasai sabu dan ekstasi dalam jumlah jauh melebihi batas toleransi harus menerima kenyataan pahit, yaitu tidak ada keringanan hukuman.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau menjatuhkan pidana penjara 7 tahun 6 bulan kepada terdakwa Tade Kharisma Juliadi Bin Mursidi [38], warga Jalan Abel Gawei Rei 2 Gang Watacoffe, Kelurahan Pulang Pisau, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, dalam sidang yang berlangsung Selasa [5\5\2026].

Vonis tersebut jauh lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang hanya meminta 6 tahun penjara. Majelis Hakim yang diketuai Layla Windy Puspita Sari, S.H. bersama anggota Mohammad Khairul Muqorobin, S.H., M.H. dan Anisa Yustikaningtiyas, S.H., M.Kn. Majelis menilai terdakwa tidak layak mendapat belas kasihan mengingat latar belakangnya sebagai residivis, serta jumlah barang bukti yang sangat signifikan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perkara ini bermula dari penangkapan dramatis pada Kamis [25\9\2025] sekitar pukul 09.00 WIB. Petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi [BNNP] Kalimantan Tengah yang dipimpin saksi Abdul Rahman, S.H. dan Andri Harianto melakukan penggeledahan di rumah terdakwa, setelah menerima laporan masyarakat bahwa lokasi tersebut kerap dijadikan tempat transaksi narkotika.

Betapa terkejutnya petugas, ketika menemukan 100 paket klip plastik berisi kristal putih yang diduga sabu tersebar di samping tempat tidur dan di dalam lemari. Hasil penimbangan PT Pegadaian Cabang Palangka Raya menunjukkan berat bersih sabu mencapai 15,39 gram, itu lebih dari tiga kali lipat ambang batas 5 gram yang diancam pidana berat.

Baca Juga:  Minta RAB Kamar Mandi TK Dibuka, Ridwan: ya seandainya memang terbuka, yaa kasihkan ke kami dong 

Selain itu, petugas juga menyita 3 butir tablet berwarna merah muda berlogo LV dengan berat bersih 1,15 gram yang setelah diuji laboratorium BPOM Palangka Raya terbukti mengandung MDMA, serta tiga unit timbangan digital, satu unit ponsel Infinix Note 50 Pro, satu pak klip plastik kosong, dua buah sendok sabu, dan satu buah bong alat hisap.

Dalam persidangan, terungkap fakta-fakta yang semakin memberatkan terdakwa. Tade mengaku mendapat barang haram tersebut dari seseorang bernama Aulia, yang kini masuk daftar pencarian orang [DPO].

Pemesanannya dilakukan pada Jumat [19\9\2025] atas suruhan seorang bernama Suryadi yang juga masih buron. Terdakwa memesan 10 kantong sabu dengan total berat 50 gram serta 10 butir ekstasi dengan sistem hutang, pembayaran baru akan dilakukan setelah barang laku terjual.

Tade kemudian mengambil sendiri pesanan itu di daerah Pasar Subuh Kelayan, Banjarmasin, lalu membawanya pulang ke Pulang Pisau. Yang membuat majelis hakim semakin gerah adalah pengakuan terdakwa bahwa dari 10 kantong sabu tersebut, 7 kantong sudah dijual kepada Suryadi, sementara 3 kantong sisanya dipecah menjadi 100 paket kecil yang rencananya akan diedarkan.Adapun 7 butir ekstasi telah dikonsumsi sendiri.

Fakta lain yang terungkap: terdakwa memiliki dua timbangan digital milik anak buah Suryadi yang siap pakai, dan pada pagi penangkapan, sabu-sabu tersebut sudah akan diambil oleh jaringan lainnya.

Baca Juga:  PN Pulang Pisau Vonis Terdakwa dengan pasal “Menguasai” Bukan “Menjual”, Gegara Ada Sabu Dalam Saku Celana

Majelis Hakim dalam pertimbangannya menyoroti dua hal pokok. Pertama, unsur kesengajaan terbukti kuat karena terdakwa tidak hanya menyimpan tetapi juga memecah paket, menyediakan timbangan, dan berperan aktif dalam rantai peredaran.

Kedua, status terdakwa sebagai residivis, pernah dipidana dalam perkara narkotika pada tahun 2019 dan menjalani hukuman di Rutan Kapuas, hal itu menunjukkan bahwa hukuman sebelumnya tidak menimbulkan efek jera.

“Rangkaian perbuatan terdakwa menunjukkan kesadaran penuh sejak awal mengenai jenis, jumlah, serta sifat barang yang dipesan,” demikian kutipan amar putusan.

“Terdakwa mengetahui bahwa barang tersebut adalah narkotika yang dilarang undang-undang,” tegas Ketua Majelis Hakim Layla Windy Puspita Sari, saat menyampaikan inti pesan di akhir sidang.

Tidak ada kata maaf bagi pelaku pengedar narkotika, apalagi yang sudah residivis dan barang buktinya melebihi cukup banyak. Ia menegaskan bahwa pemberian hukuman berat bukanlah bentuk pembalasan dendam, melainkan upaya menciptakan efek jera sekaligus melindungi generasi muda dari ancaman narkotika yang telah merusak ribuan keluarga di Indonesia.

“Perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana narkotika. Ini adalah kejahatan luar biasa yang harus diberantas dengan hukuman setimpal,” tandas hakim dalam amar pertimbangannya.

Dengan vonis yang terdiri dari pidana penjara 7 tahun dan 6 bulan dikurangi masa tahanan yang telah dijalani, majelis hakim juga memerintahkan seluruh barang bukti narkotika dan alat hisap untuk dimusnahkan, sementara satu unit ponsel dirampas untuk negara.

Baca Juga:  Polres Bersama Hakim PN Pulang Pisau Peringati Hari Bhayangkara Ke-80

Terdakwa yang didampingi advokatnya tampak tertunduk lesu mendengar vonis yang jauh lebih berat dari tuntutan jaksa.

Dengan vonis yang dijatuhkan, Pengadilan Negeri Pulang Pisau tidak sekadar menghukum, tetapi juga menegaskan komitmennya terhadap tujuan pemidanaan yang lebih mendasar.

Sebagaimana tercantum dalam pertimbangan putusan, tujuan pemidanaan bukanlah semata-mata pembalasan atas perbuatan terdakwa, melainkan bertujuan untuk membina dan mendidik agar terdakwa menyadari kesalahannya dan tidak mengulangi perbuatannya di masa depan, sekaligus sebagai upaya preventif bagi masyarakat luas agar tidak terjerumus dalam tindak pidana narkotika.

Majelis Hakim dalam putusannya secara tegas berpedoman pada Pasal 54 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana [KUHP] yang mengatur tentang pedoman pemidanaan.

Berdasarkan pasal tersebut, para hakim wajib mempertimbangkan sikap dan tindakan pelaku sesudah melakukan tindak pidana, serta pengaruh pidana terhadap masa depan pelaku.

Dalam kasus ini, meskipun terdakwa mengaku menyesal dan menjadi tulang punggung keluarga dengan lima orang anak, fakta bahwa ia adalah residivis, serta pernah dipidana dalam perkara narkotika pada tahun 2019, itu justru menunjukkan tidak adanya efek jera dari hukuman sebelumnya.

Sikap terdakwa yang mengulangi perbuatannya dinilai hakim sangat memberatkan. Sementara itu, pengaruh pidana terhadap masa depan keluarga terdakwa juga menjadi pertimbangan proporsional sehingga pidana penjara 7 tahun 6 bulan dipandang setimpal.

[Red***]

Berita Terkait

Gegara Perkelahian, Divonis Pidana Pengawasan Terhadap Satu Orang Dewasa dan Dua Remaja Pelaku Kekerasan
Pengedar Sabu di Banama Tingang di Vonis 5 Tahun Penjara
Sopir Truk Pengangkut Kayu Ilegal di Vonis 1 Tahun Penjara, Truk Dirampas Negara
Seorang Penambang Emas Asal Pulang Pisau Divonis 6 Tahun Penjara, Gegara Terbukti Beli dan Serahkan Sabu
Tidak Bisa Buktikan Kepemilikan, PN Pulang Pisau Tolak Gugatan Wanprestasi Jual Beli Tanah
Anak-Anak Lakukan Pengeroyokan Hingga Berujung Patah Tulang Hidung, Alhasil Terdakwa Anak Divonis 5 Bulan Penjara
Kasus Peredaran Obat Keras Ilegal Trihexyphenidyl, Terdakwa Dihukum 1 Tahun Penjara
Terdakwa Kasus Obat Ilegal Telah Dibebaskan, Hakim PN Pulang Pisau: Tidak Terbukti Mengedarkan
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:43 WIB

PMPRI Soroti dan Desak APH Untuk Audit Investigatif Penggunaan Dana Feeder Bandung Raya Rp7,2 Miliar

Jumat, 10 Juli 2026 - 07:52 WIB

PMPRI Geruduk Kejagung RI dan KPK di Jakarta

Senin, 6 Juli 2026 - 19:24 WIB

KPK dan BPKP Diminta Usut Tuntas Dugaan Mark-Up Gembok Ditjen PAS Senilai Rp.92 Miliar, PMPRI: Kami akan kawal masalah ini hingga tuntas

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

PMPRI Kembali Soroti Pengadaan di BGN: “Apa Hubungannya Gizi Anak Dengan Kaos Kaki Militer??”

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:45 WIB

Ponco Tani Hadir Untuk Petani Modern di Pemalang

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:55 WIB

Patut Diduga Telah Terjadi KKN, LSM PMPRI Asahan Demo Depan Kantor RH PTPN IV Regional II Medan

Minggu, 7 Juni 2026 - 12:03 WIB

Diduga Lelang Lahan di Bandung Terjadi Kongkalikong, Objek Senilai 9,1 Miliar Dijual 2,6 Miliar

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:49 WIB

Perkara Gugur Demi Hukum, Ketum PMPRI Apresiasi Kepastian Hukum Bagi Wakil Walikota dan Anggota DPRD Bandung

Berita Terbaru

Peristiwa

Rumah Warga Pekalongan Dijarah Oleh Puluhan OTK

Senin, 10 Agu 2026 - 21:05 WIB