Saat Kekuasaan Diperjualbelikan, Bandung Terancam Tanpa Nakhoda

- Redaktur

Kamis, 13 November 2025 - 16:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spread the love

RN, Bandung – Baru-baru ini Bandung sedang menghadapi krisis moral pemerintahan yang paling serius dalam satu dekade terakhir. Di tengah slogan reformasi birokrasi dan jargon ‘Bandung Utama’, muncul gelombang kuat dugaan jual beli jabatan dan pengondisian proyek yang menyeret bukan hanya pejabat teknis, tetapi juga lingkar kekuasaan tertinggi di kota kembang.

Dua dinas strategis, Perhubungan serta Sumber Daya Air dan Bina Marga, baru-baru ini menjadi sasaran penggeledahan Kejaksaan Negeri Bandung. Delapan kepala dinas telah diperiksa, dan temuan awal menunjukkan praktik sistematis pengumpulan ‘setoran jabatan’ dan pengondisian tender proyek. Namun akar permasalahan tampaknya jauh lebih dalam, indikasi dan diduga ada keterlibatan langsung dari Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung.

Jejak Lingkar Kekuasaan 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sumber di internal birokrasi menyebutkan bahwa sejumlah promosi jabatan dan paket proyek besar di Bandung dalam dua tahun terakhir didominasi oleh orang-orang dari tim sukses politik pasangan kepala daerah. Mereka kini menempati posisi strategis di dinas-dinas yang mengelola proyek bernilai miliaran rupiah.

Lebih jauh, orang-orang terdekat atau ‘tangan kanan politik’ kedua pemimpin kota diduga memainkan peran sebagai perantara dalam negosiasi jabatan dan proyek. Dalam praktiknya, pejabat yang ingin promosi atau pindah ke posisi ‘basah’ diarahkan untuk berkomunikasi melalui orang-orang kepercayaan tersebut, bukan melalui mekanisme resmi Badan Kepegawaian Daerah.

Transaksi ini disebut sebagai bentuk ‘investasi jabatan’, siapa yang berani membayar, akan dijamin posisinya. Siapa yang menolak, akan digeser dari lingkar kekuasaan.

Baca Juga:  Potensi Kerugian KMP Mencapai Puluhan Triliun, Kang Joker : "Negara Harus Waspada!"

Dalam konteks itu, Wali Kota dan Wakil Wali Kota tidak lagi berfungsi sebagai pengambil keputusan yang obyektif, melainkan menjadi pusat kekuasaan yang dipagari oleh jejaring politik dan ekonomi yang mereka bangun sendiri. Inilah bentuk mutakhir dari korupsi struktural, birokrasi disulap menjadi pasar kekuasaan.

Dominasi Tim Sukses dan Politik Balas Budi

Dominasi orang-orang dari tim sukses dalam jabatan publik bukan fenomena baru, tetapi di Bandung, skala dan intensitasnya kini mencemaskan. Setelah pasangan kepala daerah dilantik, sejumlah posisi kunci dari Kepala Dinas hingga Sekretaris bergeser ke tangan mereka yang punya kedekatan personal atau kontribusi politik di masa kampanye.

Birokrasi pun terpecah, mereka yang loyal pada sistem meritokrasi tersingkir, digantikan oleh mereka yang loyal kepada pasangan penguasa. Proyek-proyek pembangunan menjadi ajang balas jasa.

Dalam beberapa tender besar, nama-nama kontraktor yang terafiliasi dengan jaringan politik kepala daerah kembali muncul. Mekanisme lelang hanya menjadi formalitas, pemenangnya sudah ditentukan dari awal oleh kelompok kecil yang beroperasi atas restu orang dalam Balai Kota.

Akibatnya, wajah pemerintahan Bandung berubah dari birokrasi pelayanan publik menjadi birokrasi rente politik. Rakyat mungkin masih melihat spanduk reformasi, tetapi di baliknya, integritas telah dijadikan komoditas dagang.

Kepemimpinan yang Kehilangan Kompas Moral

Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung kerap tampil di publik membawa narasi integritas, keterbukaan, dan pelayanan prima. Namun realitas di lapangan menunjukkan paradoks yang menyakitkan. Ketika lingkar terdekat mereka justru menjadi makelar jabatan dan proyek, maka setiap kata tentang ‘integritas’ kehilangan bobot moralnya.

Baca Juga:  Tablet Senilai Setengah Triliun Lebih, PMPRI Soroti Kebijakan dan Kinerja BGN

Lebih buruk lagi, tidak ada tindakan tegas terhadap dugaan keterlibatan orang-orang dekat mereka. Tidak ada pembekuan jabatan, tidak ada audit menyeluruh, tidak ada keberanian memutus mata rantai rente di lingkar kekuasaan sendiri. Di titik ini, Bandung sejatinya telah tanpa nakhoda. Kapal pemerintahan terus berlayar, tetapi kemudinya dikuasai oleh tangan-tangan yang tidak lagi tunduk pada moral dan hukum.

Kepemimpinan tanpa integritas hanya menghasilkan pemerintahan yang berjalan secara administratif, bukan substantif. Kota mungkin tetap bersinar di atas kertas, tetapi sesungguhnya sedang karam dalam lumpur moralitas kekuasaan.

Kota Yang Tersandera

Ketika jabatan dijual dan proyek dipesan oleh lingkar politik, publik menjadi korban paling nyata. Program pembangunan terhambat karena lebih banyak dihitung dari untung rugi politik ketimbang manfaat sosial. Pejabat-pejabat yang menduduki jabatan karena ‘bayar tiket’ akan sibuk mencari cara untuk menutup modalnya.

Pelayanan publik menjadi lamban, proyek infrastruktur banyak yang asal jadi, dan kepercayaan warga terhadap pemerintah runtuh. Inilah harga mahal dari birokrasi yang diperjualbelikan.

Mencabut Akar Busuk Kekuasaan

Jika Bandung ingin selamat dari kehancuran moral, tidak ada pilihan lain selain mencabut akar korupsi di lingkar kekuasaan tertinggi.

Baca Juga:  Tim Ombudsman RI Sambangi Pemalang 

1. Audit menyeluruh terhadap semua mutasi jabatan dan penunjukan proyek dua tahun terakhir harus dilakukan secara terbuka oleh lembaga independen.

2. Tangan kanan politik yang diduga menjadi calo jabatan harus disingkirkan dan diproses hukum, bukan sekadar dimutasi.

3. Penegak hukum—Kejari, KPK, dan Kepolisian—harus berani menembus tembok politik Balai Kota. Tidak boleh ada kekebalan hanya karena pelaku berada di lingkar kekuasaan kepala daerah.

4. Wali Kota dan Wakil Wali Kota harus dimintai pertanggungjawaban moral dan politik. Jika mereka terbukti mengetahui dan membiarkan praktik ini, maka publik berhak menuntut mereka mundur.

Penutup: Bandung di Persimpangan Sejarah

Bandung hari ini berdiri di ambang krisis moral dan politik. Jika dugaan keterlibatan kepala daerah dalam jual beli jabatan terbukti, maka sejarah akan mencatat masa ini sebagai periode paling gelap pemerintahan kota.

Namun jika keberanian moral bisa muncul untuk memutus rantai rente politik, membersihkan lingkar kekuasaan, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Bandung masih punya harapan untuk menemukan kembali arah dan nakhodanya.

Kota ini tak akan pernah jadi ‘Utama’ selama jabatan dan proyek dijadikan komoditas politik. Dan kepemimpinan sejati hanya bisa lahir dari keberanian memerangi kawan sendiri demi kepentingan publik. Jika keberanian itu tak ada, maka benar adanya, Bandung sudah tanpa nakhoda.

Opini: Rohimat Joker

Ketua Umum DPP LSM PMPRI

[Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia]

Berita Terkait

Perkara Gugur Demi Hukum, Ketum PMPRI Apresiasi Kepastian Hukum Bagi Wakil Walikota dan Anggota DPRD Bandung
Aliansi Masyarakat Anti Mafia Tanah Kembali Gelar Aksi Unjuk Rasa, Kawal Sidang di PN Cianjur: Dukung Polda Jabar Bongkar Skandal Dugaan Sertifikat Ilegal senilai Rp.200 Miliar
Gawatt…!! LSM PMPR Geruduk Pemkot Bandung, Terjadi Aksi Gorok Babi Hutan
Peringati Milad ke-109 Bersama Bupati, Aisyiyah Pemalang Perkuat Dakwah Kemanusiaan dan Soroti Masalah Sosial
Ssstt… Bupati Kembali Tegaskan Agar Semua OPD Respon Cepat dan Tindak Lanjuti Rekomendasi DPRD Pemalang
Soal Tantangan Zaman, Bupati Anom Himbau Ansor–Fatayat Agar Jaga Generasi Muda
Majelis Hakim PN Pulang Pisau Vonis Pelaku Penyimpan Sabu 6 Tahun Penjara
Mengalir Darah Anak Bangsa, Aliansi Masyarakat Kawal Persidangan di PN Cianjur, Massa Dukung Sepenuhnya Polda Jabar Bongkar Skandal Sertifikat Ilegal Senilai Rp.200 Miliar
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 16:55 WIB

Upacara Harkitnas ke-118, di Halaman PN Pulang Pisau, Tekankan Perlindungan Tunas Bangsa

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:11 WIB

HKTI Dilantik, Diharapkan Bisa Bersinergi Dengan Pemerintah Daerah

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:52 WIB

Demi Tingkatkan Sinergitas Penanganan Terhadap Perempuan dan Anak, Dinsos KBPP Pemalang Gelar Rakor

Minggu, 10 Mei 2026 - 07:26 WIB

Peringati Hari Tari Sedunia, Bupati Anom Gandeng Generasi Muda Untuk Lestarikan Budaya

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:52 WIB

Pasar Murah di Clekatakan

Sabtu, 24 Januari 2026 - 16:24 WIB

Khaul Pangeran Benowo, Sekaligus Peringati Hari Jadi Pemalang ke 451

Kamis, 22 Januari 2026 - 16:39 WIB

Peringati Hari Jadi Ke 451, Forkopimda Tanam Pohon Serentak Bersama Masyarakat 

Selasa, 20 Januari 2026 - 20:50 WIB

Bupati Tinjau Banjir Ulujami

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

SPMB di Pemalang Dijamin Bersih dan Sesuai Regulasi Nasional

Rabu, 3 Jun 2026 - 21:13 WIB

RAGAM

Tiga PNS Telah Resmi Disumpah Oleh PN Pulang Pisau

Rabu, 3 Jun 2026 - 07:05 WIB