RN, Pemalang Jateng – Kabupaten Pemalang terus memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penyangga pangan di Jawa Tengah. Sektor pertanian dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah sekaligus menjaga ketahanan pangan.
Plt. Bupati Pemalang Nurkholes dalam sambutannya membeberkan, dengan luas wilayah sekitar 1.115 kilometer persegi, Kabupaten Pemalang memiliki sejumlah komoditas unggulan, antara lain padi, jagung, nanas, mangga, kentang, dan melati. Khusus komoditas padi, berdasarkan Kerangka Sampel Area [KSA] BPS, pada 2024 Pemalang mencatat produksi gabah sebesar 421.329 ton, produksi beras 242.289 ton, dengan produktivitas mencapai 5,71 ton per hektare.
Pada 2025, terjadi penurunan luas panen dan produktivitas yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perubahan iklim. Namun, pada 2026 kondisi mulai menunjukkan perkembangan positif. Untuk periode Januari–September 2026, produktivitas tercatat sekitar 5,33 ton gabah kering per hektare dengan produksi beras mencapai 168.335 ton. Tahun ini Pemalang juga menargetkan peningkatan luas tanam, luas panen, produksi gabah kering giling, dan produktivitas padi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Khusus di Desa Kedungbanjar terdapat sekitar 417 hektare lahan padi yang dikelola oleh lima kelompok tani. Pada kesempatan ini kita melaksanakan panen di lahan Kelompok Tani Utama Lima seluas 45 hektare, dengan prognosa produktivitas rata-rata mencapai 7,2 ton gabah kering panen per hektare,” tutur Nurkholes, saat menghadiri panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis [03\09\2026].
Ia menambahkan, kondisi harga gabah saat ini juga cukup baik, yakni berada pada kisaran Rp.7.500 hingga Rp.8.500 per kilogram, di atas Harga Pembelian Pemerintah [HPP] gabah kering sebesar Rp.6.500 per kilogram. Kondisi tersebut diharapkan dapat untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Meski demikian, Pemalang masih menghadapi tantangan berupa berkurangnya luas lahan sawah. Berdasarkan data yang disampaikan, luas sawah pada 2024 tercatat sekitar 34.181 hektare dan pada 2025 menurun menjadi sekitar 32.733 hektare. Karena itu, selain meningkatkan produktivitas, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu menjaga lahan pertanian yang ada, memperkuat jaringan irigasi, memperluas penggunaan teknologi, serta meningkatkan efisiensi usaha tani.
Nurkholes juga melaporkan, pada 2026 Kabupaten Pemalang memperoleh bantuan benih padi dan jagung serta berbagai alat dan mesin pertanian [alsintan], seperti pompa air, traktor, cultivator, dan power sprayer. Selain itu, penyaluran pupuk bersubsidi hingga Agustus 2026 juga terus dilakukan, dengan realisasi penyaluran urea mencapai sekitar 64 persen dan NPK 68 persen.
Nurkholes berharap dukungan dan sinergi antara Pemerintah Kabupaten Pemalang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus diperkuat agar kebutuhan sarana produksi petani dapat terpenuhi secara tepat waktu, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan.
“Panen raya ini kita jadikan momentum untuk terus memperkuat pertanian Pemalang, mempercepat tanam, meningkatkan produktivitas, menjaga lahan sawah, dan bersama-sama mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional,” tandasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan optimisme target produksi padi Jawa Tengah sebesar 10,5 juta ton pada 2026 dapat tercapai. Hingga Januari–Agustus 2026, produksi padi telah mencapai 6,69 juta ton atau sekitar 63 persen dari target. Optimisme tersebut didukung musim panen raya kedua yang hampir mencapai puncak dan masih adanya potensi panen ketiga di sejumlah daerah.
“Januari-Agustus ini sudah 6,69 juta ton. Hari ini kita panen padi di Pemalang, di kabupaten lain juga melakukan panen. Apabila ini bisa dipertahankan, maka akan bisa terpenuhi,” tegas Luthfi.
Menurut Luthfi, Pemalang merupakan salah satu dari lima besar daerah penyangga produksi padi di Jawa Tengah. Untuk mendorong produktivitas petani, Pemprov Jateng terus menggelontorkan bantuan alat pertanian berupa traktor, combine harvester, pompa air, dan benih kepada kelompok tani di Pemalang maupun daerah lainnya.
“Alat-alat pertanian dan pompa kita geser ke sini. Kita juga ada dua mekanisme penanganan lahan pertanian, yaitu sawah tadah hujan dengan perpompaan dan perpipaan, kemudian sawah irigasi dengan optimalisasi jaringan irigasi tersier,” tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, pola tanam dan panen di setiap daerah menyesuaikan kondisi wilayah serta ketersediaan air. Di kawasan Pantura seperti Kedungbanjar, umumnya terdapat dua musim panen padi yang diselingi komoditas pertanian lainnya, sementara sejumlah daerah mampu melakukan tiga kali musim tanam dan panen.
Menurut Frans, penerapan pertanian modern melalui metode PMAS [Pertanian Modern Agriculture Advance System] menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas. Pemprov Jateng juga memiliki program Pilar Jateng yang menyediakan pemetaan infrastruktur lahan, irigasi, serta alat dan mesin pertanian sehingga intervensi pemerintah dapat dilakukan secara lebih presisi dan tepat sasaran.
“Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani,” tukasnya.
Bantuan combine harvester juga mendapat apresiasi dari Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalmlati, Kecamatan Petarukan. Menurutnya, bantuan tersebut membantu menekan biaya produksi sekaligus mempercepat proses panen, mengingat selama ini petani harus mendatangkan mesin dari daerah lain.
“Terima kasih atas bantuan combine harvester ini. Biasanya kami datangkan dari daerah lain. Pada musim tanam satu kita kadang telat panen karena menunggu mesin dari daerah lain, itu juga mempengaruhi harga gabah,” paparnya.
[SM\SA.1]














