1625446autis1780x390

KOMPAS.com – Berkeliling di dalam Autismaze serasa masuk dalam labirin yang unik. Tak seperti labirin biasa yang penuh teka-teki, Autismaze menyuguhkan kejutan di setiap sudut. Pengunjung wahana labirin ini mendapatkan petunjuk terkait bagaimana individu spektrum autisma menanggapi atau merespons lingkungannya. Berbagai petunjuk ini seolah membuka tirai pengetahuan bagaimana kita sebaiknya memahami dunia autisma.

Labirin ini tersusun atas partisi seluas 255 meter persegi yang bertuliskan beragam respons individu spektrum autisma atas suatu rangsang. Rangsang ini bersifat ekstrem mulai dari hypo hingga hyper. Contohnya, rasa pedas satu cabai bisa terasa seperti 100 cabai pada beberapa penderita autis. Namun pada penderita lainnya, sebuah cabai seperti tak ada rasa alias hambar.

Hal inilah yang dirasakan Jessica Deviyanti (28), yang datang bersama keluarganya. Jessica mengatakan, seorang sepupunya terdiagnosa autis pada usia tiga tahun. Tingkah laku saudaranya yang terbilang “aneh” menarik perhatian Jessica dan keluarga.

“Saudara saya itu seperti nggak suka sama suara. Sedikit saja ada suara dia langsung teriak atau menutup telinga. Kita merasa hal tersebut aneh, bagaimana mungkin ada orang nggak suka suara,” kata Jessica.

Pengalaman tersebut ternyata meninggalkan kesan mendalam, dan menjadi perbincangan keluarga. Sebagai seseorang yang awam akan autisma, Jessica mengaku penasaran sekaligus takut pada apa yang dilihatnya. Pengalaman tersebut sedikit banyak membuatnya mencari info tentang autisma.

“Ketika masuk dalam Autismaze, mata saya seperti terbuka. Ternyata beginilah yang dirasakan saudara saya. Mungkin reaksi dia hanya sedikit dari beragam respons autis yang bisa ditemui,” kata Jessica seusai berkeliling wahana labirin Autismaze yang berdiri di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta hingga 30 September 2013.

Dari berbagai petunjuk yang ada,  Jessica berencana membagi pengetahuan yang didapatinya kepada seluruh keluarga demi membantu proses terapi sepupunya tersebut.

Hal senada dikatakan Karna Panji (40) yang memiliki seorang anak penderita autisma. Karna mengatakan, berbagai petunjuk dalam wahana labirin ini mampu mewakili berbagai reaksi yang dirasakan penderita autis.

“Gambaran umumnya sudah cukup mewakili. Petunjuk yang ada bisa menjawab keingintahuan seseorang yang baru berkenalan dengan autis,” ungkap Karna yang juga Ketua I Yayasan Autisme Indonesia.

Berbagai pengetahuan yang ada di dalam Autismaze, kata Karna, sesuai dengan keingintahuannya saat pertama kali tahu puteranya menderita autis.

Putera Karna, M Kharis Aradea, terdeteksi autis saat berusia dua tahun. Perhatian puteranya yang tak fokus mengundang tanya, hingga akhirnya puteranya menerima vonis menderita autis.

Karna berharap, Autismaze bisa membuka tabir pengetahuan pada apa yang dirasakan penderita autis. Pengetahuan ini kemudian akan dibagi pada kelompok komunitas atau masyarakat tempatnya berada. Harapannya, berbekal pengetahuan ini masyarakat akan semakin terbuka dan lebih mudah menerima penderita autis.

“Tak perlu menutup diri bila buah hati terdeteksi autis. Justru orangtua harus membuka diri dan mencari pengetahuan sebanyak mungkin. Salah satunya lewat Autismaze,” tuturnya.

sumber : www.kompas.com

iklan