Pilkada-ilustrasi-Rahmatullah

Oleh: Veliyan Sentosa*

            Sebelumnya apa sih arti Golput itu? – Sejak tahun 1955 hingga 2014, Bangsa Indonesia telah melaksanakan pemilihan umum. Istilah Golput itu muncul pertama kali pada Pemilu zaman Orde Baru tahun 1971. Penggagas sikap untuk tidak memilih itu, antara lain Arief Budiman, Julius Usman dan Alm. Imam Malujo Sumali. Langkah mereka didasari pada pandangan bahwa aturan main berdemokrasi tidak ditegakkan, cenderung diinjak-injak (Fadillah Putra: 2003: 104).

Penyelenggaraan pemilu yang berulang-ulang tak juga memberikan banyak hal terkait dengan perbaikan nasib bagi masyarakat. Kekecewaan yang ditimbulkan akibat janji-janji palsu para oknum/pejabat Negara terhadap masyarakat, mebuat masyarakat merasa jenuh dan tertipu sehingga banyak pula yang tidak menggunakan hak suaranya untuk memilih. Hal tersebut yang sering kita kenal dengan kata Golongan Putih (golput).

Pemilu yang akan digelar 9 April 2014 mendatang, diprediksi banyak yang golput. Hal itu disebabkan karena banyak masyarakat yang kecewa pada oknum pejabat Negara. Dengan maraknya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh para oknum elit politik baik ekskutif maupun legislatif serta janji-janji palsu terhadap masyarakat yang jauh dari sesuai harapan masyarakat.

Maraknya money politik membuat masyarakat berpotensi untuk golput. Partai politik yang berkampanye memanfaatkan uang untuk menarik simpatisan. Jika satu partai politik menggunakan money politik, bukan hal yang mustahil jika partai yang lain juga menggunakan hal yang sama.

Kita sebagai generasi penerus bangsa, harus pintar dalam memilih seorang pemimpin untuk kemajuan masa depan bangsa. Karena tidak semua para pemimpin kita yang memiliki sifat yang buruk seperti yang dilakukan para oknum pejabat kita saat ini. Golput bukanlah jalan keluar yang terbaik untuk menentukan nasib kehidupan bangsa dan Negara dimasa yang akan datang. * Mahasiswa FISIP Universitas Bandar Lampung (ed:ER ; ilustrasi: solopost)

iklan