JABAT TANGAN : Rektor UBL Dr. Ir. M.Yusuf S. Barusman, MBA (berjas) berjabat tanggan dengan Rektor Universitas Budi Luhur Jakarta Prof. Dr. Sc. Ag. Ir. Didik Sulistyanto (berbatik) setelah penandatanganan MOU disela Workshop Penelitan dan Pengabdian Masyarakat UBL di Auditorium Kampus B Pascasarjana, Dra. Hj. Sri Hayati Barusman UBL, (7/3/2018). (Dok Foto BMHK UBL).
JABAT TANGAN : Rektor UBL Dr. Ir. M.Yusuf S. Barusman, MBA (berjas) berjabat tanggan dengan Rektor Universitas Budi Luhur Jakarta Prof. Dr. Sc. Ag. Ir. Didik Sulistyanto (berbatik) setelah penandatanganan MOU disela Workshop Penelitan dan Pengabdian Masyarakat UBL di Auditorium Kampus B Pascasarjana, Dra. Hj. Sri Hayati Barusman UBL, (7/3/2018). (Dok Foto BMHK UBL).

Bandar Lampung – Universitas Bandar Lampung (UBL) terus melakukan upaya peningatkan kualitas penelitian dan pengabdian masyarakat bagi para dosennya. Berbentuk untuk kesekian kalinya, UBL mengadakan acara Workshop Penelitan dan Pengabdian Masyarakat termasuk baru-baru ini digelar di Auditorium Kampus B Pascasarjana, Dra. Hj. Sri Hayati Barusman UBL pada (07/03/2018) kemarin. Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Universitas Budi Luhur Jakarta sekaligus sebagai pemateri workshop, Prof. Dr. Sc. Ag. Ir. Didik Sulistyanto. Kemudian kegiatan ini juga dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman, Memorandum Of Understanding (MOU) antara UBL dengan Universitas Budi Luhur.

Rektor UBL Dr. Ir. M. Yusuf. S.Barusman, MBA mengatakan kampusnya masih memiliki banyak potensi untuk menambah kuota proposal yang diajukan.Potensi proposal yang dikirimkan masih bisa kita terus mendorong para dosen kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas mendalpatkan hibah penelitian. Harapan saya ditahun mendatang dapat mencapai kuota dana hingga 10 miliar rupiah,”ujar Yusuf dalam sambutannya Rabu (7/3/2018).

Dalam pemaparannya, Prof. Didik berujar menyatakan bahwa menulis proposal penelitian, riset dan pengabdian masyarakat merupakan bagian dari tri dharma perguruan tinggi. “Penelitian, riset dan pengabdian merupakan kewajiban seorang dosen. Perlu diingat, menulis dan mempublikasikan proposal ketiganya sangat besar manfaatnya. Selain bisa meningkatkan kesejahteraan, juga  menjadi  poin untuk kenaikan pangkat. Menulis bisa menjadi ‘poin dan koin’,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Didik mengarahkan dalam pembuatan dan penyusun proposalnya harus mengacu pada panduan format penilaian. Selain itu dalam mengolahnya para peneliti penelitian, riset dan pengabdian masyarakat juga harus memiliki roadmap yang jelas. “Tanpa roadmap itu maka proposal tidak akan terarah. Roadmap harus sejalan dengan renstra penelitian perguruan tinggi. Sehingga penelitian akan memiliki sifat, karakter,sampai nilai kegunaan yang tinggi,”imbuhnya.

Disinggung kesimpulan dari adanya workshop ini, Prof. Didik membeberkan para dosen UBL sangat potensial untuk membuat proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang berkualitas. Tentu dengan format, ketentuan skim penelitian, aktivitas penelitian, tata cara hingga tahapan penulisan penelitian yang ditetapkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). “Hal (kemampuan) itu bisa terlihat pada sesi akhir workshop ini dengan adanya memberikan kesempatan diskusi kepada para peserta untuk mengajukan judul atau proposal penelitiannya. Alhamdulillah selain antusias, para peserta memiliki kajian (penelusuran) riset yang beragam dan berkualitas pula. Progres ini sangat bagus, tapi perlu dipertajam dan ditingkatkan lagi,” Papar Guru Besar Bioteknologi Pertanian dari Universitas Jember ini.

Menambahkan, Wakil Koordinator Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UBL Drs. Soewito, M.M menyambut baik adanya kegiatan Workshop yang dihadiri oleh seluruh dosen UBL ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan kontribusi dosen, yang muaranya dapat ditularkan kepada para mahasiswa untuk menulis hingga mempublikasikan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat. “Ini adalah suatu kewajiban bagi para dosen melakukan penelitian dan diharapkan untuk lebih meningkat setiap tahunnya. Sedangkan MOU ini sendiri untuk menambah kapasitas para dosen dalam aspek tridarma perguruan tinggi baik pendidikan dan pengajaran, atau riset-riset sehingga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan mutu dosen yang bersangkutan,”pungkas Soewito. (BMHKRTS)

iklan