Rifandy Ritonga2Teatrikal politik mulai bermain, masyarakat Lampung akan disuguhi hajat besar pertarungan politik pemilu kepala daerah (Pilkada) berupa Pemilihan Gubernur/ Pemilihan Bupati (Pilgub/Pilbup) ditahun 2018 mendatang. Walaupun waktu setahun lagi genderang perang sudah mulai dibunyikan oleh sang pemilik harapan akan berjanji akan menyejahterakan Masyarakat Lampung dalam wujud pemimpin baru (new leader)  yang tentunya akan bersaing dengan petahana yang akan berkerja keras mempertahankan keberadaannya sebagai pemimpin diwilayah tersebut. Harapan pemimpin baru menjadi sebuah keniscayaan demi terbangunnya kepemimpinan ideal yang bisa meneruskan estafet atau melanjutkan demi terwujudnya kepemimpinan akuntabel dan bertanggungjawab. Apalagi, bakal pemimpin baru yang muncul memiliki visi dan misi yang jelas dan mampu melaksanakan janji politiknya ketika masa kampanye (harapannya). Sebelum pemilu 2018 dimulai para elit politik mulai mempersiapkan diri menghadapi derasnya suhu politik yang hampir rata-rata jika dilihat pada pengalaman masalalu selalu yang ditunjukan adalah persaingan politik yang tidak sehat. Hal ini sudah menjadi hal yang lazim dipertontonkan ketika proses kampanye berlangsung.

Mesin politik mulai mungumpulkan massa demi kesuksesan calon yang diusungnya. Bahkan jauh sebelum kampanye di laksanakan, masing-masing parpol sudah mengadang-gadang janji-janji politiknya untuk meyakinkan masyarakat dengan berjuta-juta harapan akan kesejahteraan. Makanya, menjelang pemilu kepala daerah, berbagai persiapan dilakukan para partai politik untuk menampilkan citra pemimpin yang akan diusungnya untuk menarik simpatik dan daya pikat pada masyarakat. Buktinya, walau pesta demokrasi masih setahun lagi di sudut-sudut jalan, perkantoran, kita sudah merasakan indahnya nuansa kampanye yang dimanifestasikan dalam spanduk dan baleho, yang mengambarkan partai tertentu dengan sosok yang diusungnya, bahkan jargon-jargo andalan mulai dipopulerkan yang semuanya itu mengandung ajakan dan rayuan yang mencoba menampilkan segudang harapan bagi masyarakat yang memilih partainya.

Jargon yang ditampilkan melalui spanduk-spanduk merupakan salah satu bentuk iklan politik yang hendak mempromosikan visi dan misi parpolnya, di samping juga mencetuskan harapan-harapan semu yang belum tentu direalisasikan (biasanya). Iklan politik yang terdapat di jalan-jalan, merupakan bagian dari kampanye parpol untuk memperoleh dukungan luas dari rakyat. Melalui iklan politik, partai politik berharap banyak akan perhatian masyarakat terhadap masa depan dan kejayaan parpolnya dalam pesta demokrasi.

Kampanye melalui imaji iklan memang cukup efektif untuk menarik simpati dan memperkenalkan diri sebagai Kepala Daerah ideal menuju pada perubahan.Namun demikian, keberadaan iklan politik harus efektif dan etis harusnya. Dalam artian, ketika menyampaikan pesan tidak harus memunculkan reaksi pro dan kontra nantinya, sehingga tidak merugikan pihak yang lain. Berbagai janji politik mulai dirumuskan untuk menarik simpati masyarakat, agar memilih partai politik tertentu sehingga bisa berkibar lebih jauh dalam memperoleh dukungan rakyat. Suara parpol tentu sangat berpengaruh pada tokoh parpol yang diusung dalam Pemilukada mendatang, sehingga mau tidak mau perolehan suara harus sesuai dengan target yang dicanangkan.

Nah, keberadaan iklan politik diberbagai media, tentunya memiliki dampak pada citra tokok pemimpinya, ini yang disebut sebagai “politik pencitraan” atau imajenasi kosong dalam wujud atribut citra dan tampilan parsial yang nantinya akan dijadikan istrumen penting dalam mendongkrak elektabilitas, popularitas seorang tokoh untuk dipilih oleh rakyat. Politik pencitraan yang seolah harapan dan perubahan itu hanyalah utopia belaka yang bersifat imajinatif dan artifisial. Membangun citra itu penting, tapi lebih penting lagi kalau citra itu tidak terbatas pada tampilan semu dan parsial, sehingga bisa mengecoh orang sekitarnya.

Mengenal latar belakang tokoh yang diusung adalah hal yang amat penting, kita tidak hanya berhenti pada imaji-imaji kosong yang berbentuk simpatik lewat untaian kata-kata yang mampu mengecoh, tapi masyarakat harus mampu menerobos imaji-imaji itu dalam realitas yang nyata dalam kehidupannya. Dalam mengenal latar belakang sosok kita harus terlebih dahulu mengenal diri kita sendiri, “Kenalilah dirimu sendiri” begitu Maksim Orakel Delphi dasar pencarian kebijakan Socrates, bapak pencari kebijakkan dalam kebijakan (Platon, Akibiades, 130 E). Bila sosok yang kita pilih hanya menebar senyum dan janji-janji politik semu, maka kita harus mempertanyakan realitas kebenaran yang diusungnya.

Rifandy Ritonga, S.H., M.H.

Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung

iklan