Aku berjalan menyusuri jalanan kecil ditengah kota jakarta ,Jalanan yang tak seindah namanya . Terpampang jelas disana sebaris kurcaci kecil yang renta dan lapar. Langakahku tertahan sejenak, menatap langit yang begitu cerah tapi mengapa tak secerah raut wajah kurcaci ini? Hati ini bertanya

“Apa salahnya Tuhan, Kurcaci kecil ini masih begitu kecil untuk ini semua ‘’.

Aku terus berjalan menyusuri jalanan yang penuh tanda tanya, belum aku temui jawaban dari pertanyaanku tadi. Jiwaku berbisik lirih, melihat, mendengar apa yang dilakukan kurcaci kecil ini. Saat ini aku sampai pada pertengahan jalan dimana ada seorang malaikat kecil mengahapiriku dengan sayapnya yang belum terbentuk sempurna. Tatapan matanya yang penuh harap menatap mataku, bibir mungilnya mulai berucap dan bertanya

“Kakak cantik, apa yang sedang kau lakukan disini? Apa kakak ingin menangkap kami? Jangan tangkap kami kak, kami takut untuk itu.”

Aku tersenyum, dan menjawab “adik kecil manis, kakak tidak akan menangkap kalian, ini kakak ada permen untukmu”.

Malaikat kecil itu tersenyum bahagia menerima sebuah permen yang menurutku harganyapun tidak seberapa, tapi dia bahagia, Apa ini yang bisa membuat mereka bahagia?

Aku kembali berjalan, jalanan ini sungguh membuat penasaran apa lagi yang akan aku temui setelah malaikat kecil tadi?. Terlihat dipojok warung seorang gadis manis penjual asongan sedang asyik dengan uang yang diraih dengan jerih payahnya seharian, kuhampiri dia. Kupandangi wajahnya yang sumringah bak seorang gadis yang ingin dinikahi seorang pangeran tampan.

Mulutku mulai berucap “Neng, sepertinya banyak itu uangnya wah.. laku keras ya jualannya hari ini? “

Matanya yang tajam menatapku seakan ia tak mau diganggu, dia tak menghiraukan diriku.

Ku lemparkan mataku jauh-jauh menuju ke ujung jalan ini, dan kakiku mulai melangkah mengikuti kata hati. Angin semilir menerpa tubuhku yang mulai berkeringat akan teriknya matahari, tapi tidak meyurutkan semangatku untuk terus berjalan menyusuri jalan yang penuh cerita ini.

Sekelompok pemuda berbadan kekar berjalan bersama menuju ke barisan kurcaci kecil yang renta dan lapar. Matanya tajam,tatapannya kejam, badannya kekar, kumisnya tebal, berjenggot wah.. begitu seram para pemuda ini, sangat mustahil para kurcaci ini bisa melawannya, laripun mereka sudah tak bisa.

Dengan lantang salah satu dari pemuda berbadan kekar ini berucap “ Heh.. mana setoran hari ini? Cepet cepet sini, apa mau aku hajar? Buruan..!! ’’

Tak ada yang berani menjawabnya, wajah mereka mumucat. Salah satu dari kurcaci kecil ini mengeluarkan kantong kresek berisikan uang recehan yang tidak seberapa, untuk membeli rotipun tak cukup. Dengan badan gemetaran ia mulai mengularkan kresek recehan itu.

“ini bang setoran hari ini, kami tak punya banyak uang, kami saja belum makan bang”

“Haih… apa-apaan ini? Ini buat beli rokok aje gak cukup gimana kali ini anak kerjanya weh… minta diberi ini anak. Hajar bro anak ini. Dasar anak-anak tak berguna !!”

Tanpa berfikir panjang sekelompok pemuda ini riuh menghajar para kurcaci kecil yang tak berdosa tersebut. Tangannya yang kekar mulai beraksi. Memukul dan mendorongnya hingga tak berdaya. Aku hanya terdiam melihat kekejaman mereka, aku sebenarnya ingin melawan.  “Tapi siapakah aku ini?” Aku hanya seorang wanita muda yang kecil dan tak ada apa-apanya, maafkan aku kurcaci kecil mungil aku tak dapat membantumu. Namun langit bisa  membantumu karena hujan yang turun begitu lebat dan petir yang menggelegar menghentikan perkelahian. Tenang kurcaci kecil… Tuhan tidak diam, ia telah membantumu.

Hati ini mengarahkanku menuju mereka yang sudah babak belur dihajar sekelompok pemuda itu. Wajahnya memar, kakinya luka sungguh tragis. Ia hanya menangis, meraung kesakitan. Pandanganku tersita sejenak melihat penderitaan mereka. Hati ini menangis, sungguh biadab orang-orang itu. Memperlakukan manusia layaknya binatang.

“Tuhan… begitu jahatnya mereka, Siapa yang sesungguhnya salah dari kehidupan mereka ini?”

Tak lama setelah itu aku langsung membawanya ke klinik terdekat, saat itu aku tak sadar bahwa pakaianku sudah basah kuyup, badan mulai memberontak, menggigil kedinginan.Aku tak memperdulikan itu, yang aku fikirkan sekarang nasib kurcaci kecilku.

15 menit… 20 menit… 30 menit… dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

“Anak itu tak apa-apa, hanya luka kecil saja. Tidak ada yang begitu serius dan bisa langsung dibawa pulang”

“Terimakasih dokter, untung saja dia tak papa”

Terimaksih Tuhan… ternyata kurcaci kecil baik-baik saja..

Putra, begitulah teman-temannya menyebutnya. Seorang anak laki-laki yang lahir dari seorang rahim perempuan. Putra adalah anugerah Tuhan yang dititipkan kepada Bapak rohim dan Ibu Ningsih. Putra adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Usia Putra saat ini masih 8 tahun, namun ia memiliki tugas seperti laki-laki yang sudah berumur 20 tahun. Ia putus sekolah sejak kelas 2 SD dan memilih untuk bekerja membantu ayahnya yang seorang pemulung sampah. Pekerjaan ia tidak memulung sampah saja, namun ia juga menyemir sepatu dan juga berjualan koran. Sungguh kurcaci kecil yang kuat. Alasan lain ia putus sekolah adalah karena Ibunya. Ya perempuan yang melahirkannya kedunia ini sedang sakit keras sejak ia berumur 6 tahun. Jangankan untuk berobat ibunya, untuk makan sehari-haripun sulit. Terkadang kurcaci kecil ini tak makan selama 2 hari, demi adik-adiknya yang masih kecil untuk makan.

Hatiku tersentak dan terhenyut mendengarkan cerita kurcaci kecilku ini, tak terasa air mataku menetes. Hati ini bertanya “Tuhan… salah siapa ini? Apakah salahku yang tak menyadari bahwa ada saudaraku yang seperti ini? Apakah salah pemerintah yang tak memperhantikan warga negaranya? Ataukah salah dirinya sendri? ’’

Selepas ia bercerita, Putra mengajaku ke gubuk tuanya dipinggiran sungai ditengah kota jakarta. Seperti yang kubayangkan, kondisinya begitu memprihatinkan. Gubuk berukuran 2×7 meter ini ditinggali dengan 6 orang, bisa kalian bayangkan apa rasanya. Pengap, sesak dan kumuh.Yaa, memang seperti itu keadaan mereka. Aku pun tak teganya melihatnya. Sang Ibu berbaring di tempat bawah beralasakn tikar dan bantal yang sudah tak layak pakai. Terlihat di sudut ruangan malaikat kecil yang aku temui tadi sedang berdoa seperti memohon kepada Tuhan untuk meringankan beban mereka yang sudah tak bisa dipikul lagi. Tak banyak yang aku bisa ungkapkan disini, karena memang kondisinya begitu tragis.

Kehidupan ini bagaikan sebuah perjuangan untuk meraih sebuah kemerdekaan sejati, bukan kemerdekaan semu. Hidup butuh perjuangan, Hidup butuh keikhlasan. Aku malu dengan diriku sendri, nasibku lebih beruntung dibandingkan Putra. Aku punya rumah yang layak untuk dihuni, aku punya orang tua yang bisa memberiku uang untuk kebutuhanku, aku masih bisa bersekolah, tapi aku tak bisa sekuat Putra. Sang kurcaci kecilku.

Putra, Kurcaci kecil yang menyimpan sejuta cerita dalam hidupnya.Kurcaci kecil yang menyimpan sebuah harapan dibalik senyumnya. Teruslah berjuang kawan dalam hidup, dan jangan lupa bahwa ada sodara kita yang membutuhkan kelebihan kita.

Aku tahu Tuhan menciptakan umatnya berbeda-beda begitupun nasibnya. Apakah nasib mereka memang seperti ini? Apakah nasib mereka tidak bisa berubah? Apakah hanya Tuhan yang bisa membantu?. Entahlah…Hanya Tuhan yang mengerti akan hambanya.

 

Oleh : Dwi Yunita Sari (UNI)

Penyunting : ErniN.

iklan