rain_drops_splashes_heavy_rain_dullness_bad_weather_60638_3840x2160
wallpaperscraft.com

Tik..tik..tik… Zrssssss……

Oh, hujan?

Aku menatap keluar jendela kamar. Hujan yang deras segera menyapaku. Aku menutup mata, membiarkan suara hujan itu masuk melalui gendang telingaku. Memaksa otakku mengingat kenangan itu.

Enam bulan yang lalu…ketika hujan itu hadir. Saat itu aku sedang menikmati segelas latte hangat. Dengan wajah pucat dan pakaian yang basah kuyup, dia memesan vanilla latte dan duduk dihadapanku.

“hai!”

Dia hanya tersenyum. Semakin memperjelas sepasang bibir pucat itu.

Aku menawarkan latte-ku yang sudah hampir dingin karena vanilla latte pesanannya belum juga tiba. Bagaimana mungkin aku membiarkan gadis ini kedinginan?

Tapi dia menolaknya dengan hangat. Cukup hangat untuk mengubah suhu disekitarku. Kupikir aku sudah tidak membutuhkan latte ini lagi.

Seorang pelayan wanita mengantarkan vanilla latte pesanannya. Gadis berambut coklat itu menyesap latte kesukaannya. Dan kemudian meletakkannya kembali di meja.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Ini hujan dan kau basah kuyup. Kita bisa membicarakannya lain kali.”

Gadis itu menggeleng.

“Kurasa hari ini aku harus menjelaskannya.”

Wajahnya berubah serius. Pertama kalinya ia memasang emosi seperti itu sejak kami saling mengenal.

Suaranya dingin. Sangat berbeda dengan senyuman yang biasa menghiasi wajah manis itu. Aku tidak bisa menebak isi hatinya. Apa yang harus kulakukan?

“A..ada apa, Keira?”

“Sepertinya kita tidak bisa lagi bertemu seperti ini,” ujarnya datar.

Gadis itu masih memegang cangkirnya. Ia meremasnya cukup kuat.

“Aku ingin kita berpisah.”

Aku merasakan sesuatu yang aneh ditubuhku. Rasanya seperti tersengat ubur-ubur ketika aku berumur tujuh tahun dulu. Tapi kali ini dengan kekuatan yang lebih besar.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Keira berdiri dari kursinya. Mengulurkan tangan kanannya didepan wajahku.

“Terima kasih untuk selama ini, Erga.”

Senyuman itu kembali. Meski tetap dengan warnanya yang pucat.

Aku menatap kedua matanya. Berharap menemukan sebuah kebohongan atas pernyataannya tadi. Kau pasti bercanda, kan?

Tapi aku tidak bisa menemukan apa-apa. Tidak. Mataku sudah hampir tertutup kabut. Sebentar lagi pertahanannya pasti akan runtuh.

Aku menyambut tangan kurusnya. Membalas senyumannya dengan senyuman paling hangat yang bisa kuberikan saat ini. Keira melepaskan genggamannya.

“Keira…” ujarku sebelum gadis itu melangkah pergi.

“Bolehkah aku meminta sesuatu sebelum kita benar-benar berpisah?”

“Apa itu?”

“Biarkan aku memelukmu untuk beberapa detik.”

Aku menghampiri punggung gadis itu. memberikan hadiah terakhir sebelum dia benar-benar pergi. Big hug yang paling dia suka.

“Terima kasih,” ujar Keira melepaskan pelukanku.

“Selamat tinggal, Erga.”

Aku memandangi tubuhnya hingga menghilang dibalik pertigaan jalanan yang masih diguyur hujan.

Apa aku benar-benar bisa hidup tanpamu?

***

 

 

Semua berjalan seperti biasa. Aku tetap masuk kelas dan datang tepat waktu di toko tempatku bekerja paruh waktu.

Tapi tidak dengan Keira.

Tidak ada yang tahu keberadaan gadis yang selalu riang itu.

Sampai tiga bulan berlalu sejak kami mengakhiri semuanya.

Ketika itu aku selesai mengantarkan pesanan terakhir didekat sebuah taman. Aku berniat menyegarkan otakku setelah terpakai seharian ini. Sungguh melelahkan. Kemudian aku menempati kursi taman didekat sebuah pohon yang cukup rindang. Baru lima menit berlalu, hujan turun cukup deras. Memaksaku berlari ke arah pohon itu.

Saat itulah aku melihat sosok yang sepertinya kukenal. Ia berjalan ke arahku. Memakai baju tidur yang terlihat terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus. Semuanya terlihat sama kecuali rambutnya. Aku sama sekali tidak bisa melihat rambutnya yang tertutup topi itu.

Brukk..

Tubuh gadis itu tiba-tiba ambruk. Hanya beberapa langkah dari tempatku.

Aku menghampirinya. Tidak peduli dengan hujan yang turun semakin deras.

“Ke..Keira?”

Gadis itu membuka matanya. Tersenyum. Darah segar mengalir dari hidungnya.

 

Beberapa jam kemudian..di ruang medis yang serba putih

 

Anterograde?

Bagaimana selama ini dia bisa mengingatku?

Apa yang sebenarnya kulakukan? Aku bahkan tidak tahu orang yang paling dekat denganku menderita seperti ini.

Mereka bilang trauma di otaknya semakin memburuk. Dan aku bisa hidup tenang? Tuhan, kenapa Kau membuatku menjadi pria yang jahat?

“Kenapa kau ada disini?”

Keira membuka matanya dan tersenyum. Aku bisa merasakan rapuhnya kedua bibir itu.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya?”

“Apa?”

Anterograde.”

“Untuk apa? Yang terpenting aku masih bisa mengenalimu.”

Aku menggenggam tangannya yang semakin kurus, mengecupnya hangat.

“Kau pulanglah, aku baik-baik saja.”

“Aku akan menemanimu disini.”

“Setidaknya kau harus mengganti bajumu, Erga.”

Bajuku memang kotor. Lumpur bercampur darah sejak tiga hari yang lalu. Keira tidak mungkin ingat kejadian itu. ia tidak sempat memeriksa perekam suaranya.

“Baiklah, aku akan pulang dan mengganti bajuku. Kau jangan kemana-mana,” ujarku setengah mengancam dengan bercanda sebelum meninggalkan kamar serba putih itu.

***

Meskipun hujan turun dengan derasnya, aku berusaha kembali secepatnya. Dengan memakai pakaian yang pernah Keira berikan di tahun pertama kami. Sweater merah yang sama dengan miliknya.

Tepat di depan kamarnya, aku mendengar suara yang paling tidak ingin kudengar. Defibrillator itu benar-benar memekakkan telinga. Bahkan otakku tidak bisa melakukan pekerjaannya. Aku tidak bisa mendengar apapun kecuali suara berisik itu.

Aku bersandar disebelah pintu kamarnya. Menutup dengan sekuat tenaga telingaku. Berharap suara itu menghilang teredam suara hujan dan Keira kembali. (OV)

 

Istilah :

Anterograde : salah satu jenis amnesia yang membuat penderitanya tidak bisa mengingat memori setelah terjadi insiden yang membuat amnesia. Biasanya si penderita tidak bisa mengingat memori di hari sebelumnya.

Defibrillator : alat untuk memeriksa aktivitas kardio atau jantung

iklan