<
p>Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur Universitas Bandar Lampung (FT-Arsitektur UBL) menghelat Kuliah Umum bertemakan Arsitektur dan Lingkungan Hidup di Aula F FEB UBL, Kampus Drs. H. RM Barusman, pada Rabu, (18/3) kemarin. Kuliah Umum diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Arsitektur Indonesia, 18 Maret 2015. Pada Kesempatan ini, turut mengundang narasumber dari Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi Daerah Propinsi Lampung, Dr. A. Zoelkarnaen R., M.SIP., CMCP. Ketua Program Studi Arsitektur, Ir. Tjetjeng Sofyan S, M.M., dan Dosen-dosen dilingkungan Fakultas Teknik UBL.
Kepala Program Studi Arsitektur UBL, Ir. Tjetjeng Sofyan S, M.M., mengutarakan Kuliah Umum diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Arsitektur Indonesia. Perkembangan dunia kearsitekan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat signifikan, pada tahun 2030 diharapkan para arsitektur dunia dan tentunya di Indonesia harus menyiapkan bangunan dengan ramah lingkungan dan di tahun 2040 arsitektur dunia harus menyiapkan bangunan dengan konsep zero-emissions.
“Perkembangan lingkungan sekarang sudah mencapai masa yang mengkhawatirkan, dengan banyaknya zat Co2 atau gas rumah kaca menyebabkan panas yang sangat melewati batasnya, terhitung sejak 1998, kita sudah sulit untuk mengolah gas rumah kaca,” imbuhnya.
Ditambahkan oleh Ketua Pelakasana Kegiatan, Windi Rahmawati, melalui kuliah umum ini diharapkan mahasiswa-mahasiswa Arsitektur UBL untuk terus belajar dan berkarya sehingga banyak yang diberikan untuk sumbangsih kemajuan dunia kearsitekan di Indonesia.
“Kegiatan ini diawali dengan Kuliah Umum bersama Dr. A. Zoelkarnaen R., M.SIP., CMCP, bazaar, pameran karya arsitektur dan hiburan. Selain itu, kegiatan ini dapat dijadikan ajang untuk bersilatuhrahmi bagi mahasiswa-mahasiswa Arsitektur di Propinsi Lampung dan diluar Propinsi Lampung,” kata Windi.
Memasuki sesi Kuliah Umum yang disampaikan oleh Balitbangnovda Propinsi lampung, Dr. A. Zoelkarnaen R., M.SIP., CMCP., menyampaikan bahwa Seminar ini bertemakan Arsitektur dan Lingkungan Hidup. Di era global seperti sekarang, banyak pembangunan yang telah dilakukan, memakan banyak sumber daya alam(sda) dan lingkungan. Pembangunan yang dilakukan telah banyak mengurangi debit air, kekedapan tanah dan kemurnian udara yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Para Arsitektur di era modern harus mulai membangun rancang bangun yang ramah lingkungan sehingga efek dari gas rumah kaca dapat dikurangi dan udara tidak akan mengalami titik panas yang tinggi. (AX)

iklan