img_20160319_115722-copy-copy

Sang fajar telah menyambut hari baru untuk mengawali aktivitas di sebuah pasar tradisional di Kota Bandar Lampung. Aktivitas penjual dan pembeli telah berlalu lalang di sekitar pasar tradsional yang menandakan kehidupan disini. Dari sosok kejauhan telah nampak sesosok pedagang yang telah renta. Mbah Won, begitulah biasa masyarakat menyapanya. Mbah Won telah berdagang selama 79 tahun di pasar ini. Sungguh perjuangan yang tiada henti mengingat usia dan kondisi fisik yang tidak semuda dulu tetapi semangat di masa muda untuk menjajakan dagangannya tak lekang dimakan usia.

Mbah Won biasa menjajakan dagangannya di pasar Kampung Baru. Ketika fajar sudah mulai menyingsing, Ia diantar oleh sang cucu dari rumahnya yang berada di Kota Sepang, Bandar Lampung. Ketika sampai di pasar, Mbah Won dibantu sang cucu mempersiapkan barang dagangan untuk di jajakan di lapaknya. Lapaknya pun merupakan milik orang lain, sang mbah hanya menunggu lapak ini. Berbagai buah pun dijajakan di lapak tersebut. Hampir puluhan tahun ia telah melakoni pekerjaan ini demi menyambung hidup. Walaupun kondisi tubuh tidak semuda dulu, ia mensyukuri rezeki yang didapatnya selama berdagang di pasar ini.

“Walapun kini mbah usianya tak muda lagi, mbah sadar tubuh ini sudah menua dan mulai melemah, pengelihatan mbah pun tidak setajam dulu saat menghitung laba tetapi berapapun rezeki yang diperoleh ya harus selalu disyukuri, berapapun itu. Mbah ini ingin terus berusaha untuk tetap berdiri sendiri dan tidak merepotkan anak-anak ataupun orang lain,” Ungkapnya.

Bagaikan semangat yang terus membara di badan. Ibu dari lima orang ini belum menyerah untuk bertahan hidup mandiri tanpa menyusahkan orang lain. Senyum ikhlas selalu terpancar dari raut wajahnya yang mulai menua ini termasuk ketika ia menjajakan dagangannya kepada para pelanggan di pasar. Memang barang dagangan yang dijajakan di lapaknya tak sebanyak pedagang lain tetapi selalu ada rezeki yang datang kepadanya melalui buah yang dijajakannya.

“Namanya juga berdagang kadang dagangan mbah ramai dan kadang juga dagangannya pun tak laris,” Imbuh Mbah.

Setelah pulang dari berdagang di pasar, ia bah tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Bahkan ketika pagi sebelum berangkat,  ia masih sempat menyiapkan sarapan untuk sang suami. Keuntungan yang didapat dari menjual buah ini memang tidak lah banyak tetapi itu sudah mampu membantu meringankan beban sang suami yang hanya berkerja sebagai buruh tani singkong di ladang orang lain. Penghasilan yang didapat sang suami pun tak menentu dan kondisi suami yang sering sakit-sakitan juga yang terus mendorong tekad Mbah Won untuk tetap berdagang.

Rentan dan ringkih kondisi tubuhnya tidak menjadikannya malas. Usia senjanya ia habiskan untuk berjuang bertahan hidup dan melayani sang suami. Baginya, hidup ini adalah pengabdian. Pengabdian untuk suami dan pengabdian untuk Tuhan yang selalu mencukupi apa yang ia butuhkan. Ia selalu bersabar dalam keikhlasan, ia tahu bahwa hidup harus tetap diperjuangkan berapapun usia kita. Ia yakin rezeki Sang Kuasa selalu ada bagi yang mau berusaha. (FW)

iklan