ilustrasi_101216150406

Umurnya sudah tak muda lagi, cucunya terbilang banyak. Mimi,begitulah sapaannya. Lahir di Jawa Tengah 56 tahun silam, hari dan tanggal kelahirannya pun Mimi tak pernah tahu. Para pelanggan setianya rela mengantri demi sepiring nasi dengan lauk sederhana masakannya. Bukan perkara enak ataupun elit sebuah makanan, tapi lebih kepada masakan dengan resep ikhlasnya lah yang membuat para pelanggannya setia. Letak warung makan Mimi sangat strategis, yaitu terletak gang Dakwah yang berseberangan dengan kampus UBL, maka dari itu Pelanggan Mimi mayoritas adalah mahasiswa.

Mimi memanglah orang tua yang sangat luar biasa, walau mimi adalah seorang janda, tapi Mimi pantang untuk berpangku tangan, meminta-minta pada anak-anaknya. “Saya memang seorang janda mas, anak-anak sudah berkeluarga semua, jadi untuk menjalani hidup saya tetap mencari uang receh dengan terus berjualan di warung reot ini, terlebih Mimi tetap bertahan karena para pelanggan Mimi yang setia, kayak mas ini ” ujar Mimi saat ditemui diwarung makannya di gang Dakwah pada saat ba’da magrib.

“Warung Mimi ini sudah dari tahun 1986 berdiri mas, jadi UBL Berdiri Mimi sudah berjualan tapi tidak langsung sebesar ini, dulu modal awal hanyalah 30 ribu, itupun hanya jualan sayuran mentah dan mengumpulkan sedikit demi sedikit uang recehnya, makanya bisa kaya gini mas” Ujarnya. Sebelum bapaknya anak-anak meninggal, saya memang terbiasa hidup susah dan bekerja keras, jadi sudah terbiasa seperti ini, yang namanya mencari uang itu tidak pernah ada cukupnya, berapapun tidak akan mencukupinya mas, tapi bagaimana kita mencukupkan untuk hidup” pungkas Mimi dengan senyum penuh keikhlasannya. (DE/ed:ER) ilustrasi: Republika

iklan