Merajut Asa Di Tanah Rantau

Sang surya kembali memantapkan terik sinarnya di siang hari, namun tidak akan menghalangi setiap langkahnya untuk bekerja. Semerbak aroma dari tong sampah, botol-botol bekas, kardus serta koran berserakan merupakan pundi-pundi rezeki untuk kelangsungan hidup keluargnya. Tak jauh dari tempat ini, sudah nampak sosok pria berkulit hitam dengan wajah yang memancarkan senyum keikhlasan.

Sunar atau masyarakat akrab menyapanya Pak Doni merupakan perantau yang berasal dari daerah Kendal, Jawa Tengah. Tradisi yang begitu kental dari daerahnya yang memotivasinya untuk merantau ke Provinsi Lampung ini. Harapannya ia mampu untuk mengubah nasibnya dan menggapai kesuksesan. Dengan bermodalkan keberanian, Pak Doni memberanikan diri untuk membawa istri dan anak tunggalnya untuk merantau ke Provinsi Lampung. Sebuah daerah baru untuk mewujudkan harapannya mengubah jalan nasibnya. Kerasnya kehidupan yang dijalani Pak Doni di sebuah daerah yang terbilang asing untuknya, tanpa sanak keluarga atau orang yang dikenal.

Hari demi hari pun berlalu mengiringi perjalanan hidup Pak Doni di Provinsi Lampung ini. Berbagai pekerjaan pun telah dicoba untuk dilakukan. Namun, latar belakang pendidikan Sekolah Dasar ini yang membuat Pak Doni sulit mendapatkan pekerjaan yang memadai.“Saya sudah mulai putus asa, tapi alangkah bodoh apabila saya berpikiran yang pendek. Saya masih punya tanggung jawab, istri dan anak saya,” ungkapnya.

Semangat yang menggebu-gebu dalam bekerja dan berusaha tanpa menyerah untuk menghidupi keluarganya telah membuat jiwa dan raganya menjadi sekuat baja. Sebelum sang fajar menampakkan wujudnya, Pak Doni sudah menyusuri jalanan setapak demi setapak dengan segenap asa, mengumpukan besi – besi tua yang sudah tak terpakai, tumpukan sampah yang membusuk dan harus disiangi satu persatu demi mendapatkan kepingan rupiah. Tidak pernah selintas di benak pikirannya untuk mengeluh dan meratapi nasib yang sudah ditakdirkan tetapi selalu bersyukur atas apa yang telah didapat. Pak Doni juga berfikir, butuh waktu berapa lama untuknya mengumpulkan uang untuk bisa kembali ke kampung halamannya. Tidak selamanya apa yang diinginkan sesuai dengan kenyataan tetapi dibalik semua itu ada secercah kebahagiaan yang bisa di dapat. “Bukan perkara kerasnya kehidupan diperantauan, tapi bagaimana bersyukur dengan apa yang telah dimiliki,” pungkasnya. (Rep. DN/Ed. AX)

iklan