Foto: hizbut-tahrir.or.id

Tiada yang tahu apa rahasia Tuhan untuk hamba-Nya. Manusia hanya berencana dan berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Tiada yang tahu hal-hal yang kecil bisa jadi masalah yang besar. Begitulah yang dialami oleh Saharudin Daming, seorang tuna netra peraih gelar Doktor  Ilmu Hukum pertama di Indonesia. Lelaki yang akrab dipanggil “Udin” ini lahir pada tanggal 28 mei 1968 di kota Pare-pare, Sulawesi Selatan.

Dari ketidaksengajaannya menguek-ucek mata karena terkena debu dari partikel atap rumah yang sedang dibongkar, ia mengalami kebutaan pada kedua matanya. Hal itu dialaminya saat ia berusia 10 tahun ketika hilir mudik disela-sela kesibukan orang membongkar rumah. Bagian mata kanan Udin kemasukan debu dari partikel atap rumah tersebut. Tanpa berpikir panjang udin mengucek-ucek matanya untuk menghilangkan rasa gatal dan perih. Sambil berjalan kaki menenteng bagian-bagian bongkaran rumah, Udin pun masih mengucek matanya hingga ke tempat perakitan yang berjarak kurang lebih 2 km dari pembongkaran.

Disela-sela antusiasmenya dengan berbagai aktifitas sekolah, ia tak pernah lupa membantu sang ibu. Baik di rumah maupun membantu usaha kecil ibunya menjajakan jagung bakar di emper-emper toko. Ayahnya meninggal dunia ketika Udin berusia 6 tahun. Udin sangat kagum dan banyak menggali inspirasi dari keteguhan sang ibu yang begitu tegar mengatasi himpitan ekonomi keluarga. “saya sangat menyayangi dan mencintai ibu” tegasnya, bersemangat.

Sejak itu ia melakukan pekerjaan sambilan, meski dengan sangat berat meninggalkan kebiasaannya membaca buku di luar jam sekolah. Beberapa pekerjaan telah ia lakukan, sebagai penjaja kue, es lilin buatan orang lain, menjadi kuli bangunan dan kondektur angkutan umum di kotanya. Bahkan ia pernah menjadi tukang antar keranjang ikan dari perahu yang sandar di pelabuhan ke pusat pelelangan.

Dalam keadaan semangat membantu ibunya, Udin mengalami kebutaan total pada mata kanannya. Karena mengucek mata cukup lama disertai tekanan keras hingga menimbulkan iritasi. Akibatnya, lingkaran pandang mata Udin terganggu dengan kabut kemerah-merahan. Sehingga semua obyek pandang saat itu tampak berwarna merah, sekalipun benda tersebut tidak ada yang berwarna merah. Keadaan itu terus berkembang dari waktu ke waktu. Menginjak catur wulan pertama di kelas VI SD, kedua belah mata Udin benar-benar telah mengalami kebutaan total. Hal itu ditandai dengan seringnya Udin menabrak benda-benda yang ada dihadapannya. “Saya merasa sangat tertekan dan hampir putus asa”, tutur udin lemas. Ibu dan keluarganya telah berusaha sampai membawa Udin ke pusat perawatan mata pada salah satu rumah sakit di Makassar.

Namun, sistim syaraf dari otak ke retina mata  Udin mengalami kelumpuhan. Sehingga secara medis, tidak tersedia lagi upaya untuk memulihkan penglihatannya kecuali jika ada keajaiban. Usaha dan do’a telah ditempuh Udin lebih dari 1 (satu) tahun, namun kesembuhan belum juga terlihat. Wajah riang dan canda gurau yang menjadi ciri khas Udin semuanya berangsur hilang. Wajah cerah dan harapan baru perlahan-lahan mulai nampak, ia mendapatkan pengalaman dari A. Hamzah seorang tuna netra yang dikenalkan oleh Narti (kakak keduanya). Diluar dugaan, Udin meminta agar segera diantar ke SLB di Makasar.

 

Perjuangan Menuntut Ilmu

Selama menempuh pendidikan di SLB-A Yapti Makasar, Udin telah  belajar banyak hal. Mulai dari cara menulis dan membaca huruf Braille hingga teknik melakukan orientasi mobilitas. Udin pun banyak menggali filsafat hidup dari senior-seniornya tentang bagaimana menjadi tunanetra yang akseptabel dengan lingkungan serta tantangan zaman. “Saya ingin banyak bermanfaat bagi orang lain. Bukankah itu sebaik-baik manusia?’ungkapnya dengan nada bertanya. Teman-teman dan gurunya pun cukup terinspirasi dengan keberadaan Udin di sekolahnya.

Setelah menamatkan pendidikan di SLB-A Yapti Makasar tahun 1985, Udin melanjutkan pendidikan secara integrasi di SMA Muhammadiyah Makasar. Karena tidak puas dengan bentuk layanan di tempat itu, maka pada saat kenaikan kelas ia kemudian pindah ke SMA Datuk Ribandang Makasar. Keberadaan udin di sekolah barunya, mula-mula disambut dengan sikap sinis, heran dan bingung di kalangan siswa dan guru-guru. Betapa tidak, karena Udin merupakan tunatera pertama dan satu-satunya yang bersekolah disana.

Hambatan dan rintangan selalu menghampiri Udin dalam melanjutkan pendidikannya. Begitu pula ketika Udin bermaksud untuk ikut mendaftar penelusuran dan kemampuan (PMDK) yang merupakan  metode penjaringan mahasiswa baru tanpa tes. Panitia lokal yang kebetulan adalah wali kelas Udin sendiri tidak memperkenankannya untuk mendaftar. Namun Udin tetap optimis, “saya akan berusaha membuktikan kepada mereka, bahwa saya bisa meraih cita2 setinggi mungkin, ujarnya bersemangat. Kemudian diam-diam ia menempuh jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru (sipenmaru) dan akhirnya ia dinyatakan lulus pada Fakultas Hukum Universitas Hasanudin Makasar.

Perjuangan Menjadi Seorang Advokat

Pada tahun 1998, ia menekuni profesi advokat secara legal dengan mengikuti ujian advokat. Hal itu ia lakukan karena keinginannya untuk membantu dan mendampingi para tuna netra dan penyandang cacat lain dalam berbagai kasus pelecehan dan penganiayaan hak. Selain aktif sebagai advokat dan memimpin organisasi cacat di tingkat Sulsel maupun nasional, udin juga aktif sebagai penulis dan menjadi narasumber di berbagai media di kota Makasar.

Ia menikah dengan seorang penulis dan dikaruniai dua orang putri yaitu Fadhilah Istiqamah (lahir 1999) dan Mufidatul Husna (lahir 2001). Udin kemudian melanjutkan pendidikannya ke pascasarjana dan mengambil program doktor. “Karena menulis merupakan hal yang biasa bagi saya, maka saya relative mampu mengatasi proses perkuliahan pasca sarjana yang banyak berkutak dengan penulisan makalah dan presentasi,” tegasnya. Ia meraih gelar magister hukum  pada tahun 2002 dan gelar doktor  dari UNHAS Makasar hanya ditempuh sekitar 2,5 tahun lebih cepat dari rekan-rekan seangkatannya.

Pada tahun 2007, tepatnya hari kamis 21 Juni, merupakan hari yang sangat menakjubkan bagi Saharudin Daming, keluarga dan segenap penyandang cacat di tanah air. Pada hari itu Komisi III DPR RI mengumumkan 11 orang yang dinyatakan lolos sebagai anggota Komnas HAM periode 2007-2012, dan salah seorang diantaranya adalah Saharudin Daming. Ia berhasil meyakinkan para pengujinya dari Komisi III DPR RI dan   mengalahkan para kompetitornya yang terdiri dari pensiunan perwira tinggi POLRI dan TNI, Guru Besar, sejumlah tokoh populer dan beberapa anggota Komnas HAM sendiri yang mencalonkan diri. “Saya merasakan kebesaran Allah saat itu benar-benar menghampiri,”urainya.

Saharudin Daming melengkapi suksesnya dengan menjadi tuna netra pertama yang meraih gelar Doktor dalam bidang ilmu hukum. Prestasi gemilang tersebut diraih melalui disertasi yang ditulisnya dengan judul: “Paradigma Perlakuan Negara Terhadap Hak Penyandang Cacat dalam Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia”.

Berbagai rintangan berat telah dirasakan dalam perjalanan karirnya. Tapi bagi Saharudin Daming semuaa itu adalah tantangan yang harus ditundukan. Sebab ia yakin setiap makhluk hidup pada prinsipnya selalu berhadapan dengan tantangan. “Saya selalu menimba inspirasi dari makhluk yang jauh lebih rendah dari diri ini. Contohnya ular yang tidak punya kaki dan pendengaran, namun ia tetap mampu mencari makan untuk melangsungkan kehidupan. Bahkan kerang yang sepanjang masa hanya memendam dirinya dalam pasir atau tanah lantaran tak punya kaki tangan, mata, telinga dan segala yang dimiliki makhluk sempurna lainnya ternyata tidak sedikitpun kekurangan rizki dari Sang Maha Perkasa,” Ujar Saharudin. (rep: Ay, Dikutip dari majalah tarbawi edisi 201 hal 24-31)

iklan