ppk4

Pelaksanaan Program Pengenalan Kampus (PPK) Universitas Bandar Lampung (UBL) 2016 hari ke dua ini mengangkat persoalan tentang tingginya permasalahan sosial baik di Provinsi Lampung dan Nasional. Permasalahan tersebut menjadi sebuah materi dalam Kuliah Umum Menteri Sosial Republik Indonesia (Mensos RI) Dra. Khofifah Indar Parawansa, M.Sos., pada Minggu (4-9) lalu di Convention Hall (GSG), Kampus Dra. Hj. Sri Hayati.

Masih diikuti 3000 peserta, dan 1800 orang diantaranya mahasiswa baru (maba). Dalam kesempatan ini, UBL juga memberikan beasiswa Yayasan Administrasi Lampung (YAL) secara simbolis kepada 20 mahasiswa untuk mewakili 800 penerima beasiswa kategori sosial tahun ini.

Rektor UBL Dr. Ir. M. Yusuf. S. Barusman, M.B.A., menjelaskan melalui orientasi PPK 2016 dari tokoh nasional Menteri Sosial RI, para mahasiswa dapat berperan aktif dalam kepedulian sosial melalui kegiatan pengenalan kampus yang dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya, berupa pengembangan akademik dan jati diri mahasiswa sesuai dengan Tridarma Perguruan Tinggi.

Selain itu, UBL secara konsisten dan simultan selalu berperan serta dalam mengembangkan kepedulian sosial mahasiswa terutama dilingkungan sekitar. Hal ini selaras dengan kurikulum contextual learning, dengan salah satu metodologi pembelajarannya berbasis pelayanan (service based learning). “Mahasiswa kami ikutkan untuk ambil bagian berperan aktif mengatasi persoalan sosial kemasyarakatan. UBL aktif dalam program pembinaan masyarakat, dengan cara membina 150 desa binaan dan komunitas pemberdayaan masyarakat, termasuk berbasis lingkungan,” Paparnya.  .

Hal ini dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai stakeholder diantaranya berbagai perusahaan dengan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility). Disektor perluasan akses pendidikan tinggi, Yusuf Barusman menambahkan UBL senantiasa memberikan beasiswa berbasis prestasi dan kondisi sosial kepada 1800 mahasiswa sedang aktif berkuliah, dengan 500 orang diantaranya maba 2016/2017 dan itu belum termasuk 300 orang penerima beasiswa bidik misi dari pemerintah pusat tiap tahunnya.

“Langkah ini dapat mendongkrak APK Pendidikan Tinggi Lampung yang hanya 18,6 persen diusia produktif kuliah 19-24 tahun. Bentuk beasiswa ini diberlakukan seluasnya berupa program semua bisa kuliah yang dijalankan sejak berdiri UBL (1984),” Ujarnya.

Sedangkan, Mensos Khafifah sangat mengapresiasi berbagai program pengentasan persoalan sosial UBL yang harus didukung sepenuhnya peserta PPK UBL 2016, umumnya para mahasiswa dan sivitas akademika.

“Terutama dalam mengurangi berbagai kesenjangan tidak hanya dikota dan desa tetapi ditiap kabupaten/kota. Mereka (mahasiswa UBL) juga harus terlibat aktif dalam mengentaskan berbagai persoalan sosial dikebanyakan internal kampus,yakni penyalahgunaan obat-obatan terlarang, konsumsi minuman keras, ketergantungan pornografi dan pornoaksi hingga seks bebas,” Ucapnya.

Baginya, UBL dengan basis pendidikan tingginya, mampu melahirkan para ahli strategi, ahli manajemen, pakar statistik, hukum, teknik hingga basis keilmuan lain yang dapat membantu pemerintah daerah hingga pusat dalam menimalsir berbagai persoalan sosial, dengan tujuan meningkatkan standar hidup masyarakat. (Rep. BMHK/Ed. AX)

iklan