memories-rain

Memori itu mulai berjatuhan. Satu demi satu kemudian semakin banyak. Bersamaan dengan turunnya air langit yang mulai membasahi tanah penuh dosa. Salah satu keajaiban alam yang menyatukan dua dunia yang saling berjauhan.

Mereka bilang hujan membawa memori yang dilupakan dan terlupakan. Setiap tetesan airnya mewakili satu memori. Mereka bilang hujan akan mengingatkan kita pada dosa. Pada hal-hal yang membuat kita sedih, menangis haru, atau tersenyum bahagia. Memori pada setiap tetesan hujan akan membawa kita mengenang kejadian yang lalu.

Tapi…

Tidak ada satupun tetesan yang membawa memori milikku.

Atau mungkin aku tidak mengenalinya?

Untuk orang yang bahkan perlu orang lain untuk memberitahu namanya sendiri. Untuk orang yang bahkan tidak mengenali dirinya sendiri. Untuk orang yang hanya bisa duduk diam menatap ke luar melalui jendela putih ini tanpa bisa melakukan apa-apa. Untuk orang sepertiku.

Mungkin aku berharap terlalu banyak.

Aku tahu Tuhan sedang menghukumku. Dengan mengambil kembali semua kenangan-kenangan yang pernah kumiliki. Pasti dosaku telah menggunung.

Ah, aku bahkan tidak ingat apakah aku dulu punya Tuhan.

“Hei,” sapa sebuah suara lembut. “Kebiasaanmu tidak berubah.”

Aku menoleh sekilas ke arah pria tinggi itu. Lalu kembali menatap tetesan hujan yang sudah semakin deras.

Ia meletakkan kotak berukuran sedang di meja dan mengambil tempat di kursi yang bersebrangan dengan tempatku duduk. Aku bisa menebak isi kotak itu. Seminggu sekali ia pasti membawa kue.

Mungkin karena aku tidak ingat apa-apa, aku tidak bisa percaya siapapun. Banyak orang yang datang dan pergi. Mengaku mengenalku. Tapi tak seorangpun yang benar-benar kukenal.

Aku juga tidak mengenal pria ini. Satu hal yang pasti. Dia selalu datang setiap hari. Menceritakan pekerjaannya sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan. Terkadang memberikan sebuah buku untuk bisa mengisi waktu sendirianku. Katanya.

Ada sesuatu yang membuat pria ini berbeda. Perasaan takut, benci, sedih, menyesal dan perasaan bersalah selalu muncul ketika aku mendengar kedatangannya. Tapi sedetik kemudian ada rasa senang, kagum, nyaman, bahagia yang mulai menyeruak. Seperti mengambil alih posisi perasaan yang tidak menyenangkan itu.

“Ah, aku lupa membawa piring dan sendok. Tunggu sebentar ya aku akan meminjam bebeapa sendok dan piring kepada perawat.” Pria itu segera bergegas menemui perawat yang kebetulan lewat dan kemudian menghilang mengikuti perawat tadi.

Seorang wanita yang berusia di tengah dua puluhan berlari di bawah derasnya hujan. Beberapa pria mengikuti wanita itu tidak jauh di belakangnya. 1. 2. 3. Wanita itu berlari kearahku. Seakan meminta perrtolongan. Ia menggedor-gedor jendela di depanku. Kemudian salah satu pria yang mengejarnya tadi menarik paksa rambut kelam wanita itu. Menjatuhkan tubuh tidak berdaya si wanita ke atas tanah becek. Dua pria lainnya segera menghampiri dan menarik paksa wanita itu menjauh. Tangan wanita itu berlumuran darah mencoba meraih jendela di depanku.

Meringkuk ketakutan. Aku berteriak histeris tanpa sadar. Tidak bisa mengalihkan kedua mataku dari pemandangan mengerikan tersebut. Adrenalinku mengalir tidak terkontrol.

Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku yang sudah lemas tak berdaya ini.

“Sssttt… Tidak akan ada yang bisa mengganggumu, Irene. Kau aman disini. Bersamaku.” Suara pria itu bergetar menahan emosinya sendiri.

Aku bisa merasakan jantungnya berdetak cepat. Suara-suara yang terus keluar dari mulutnya terdengar frustasi. Entah apa yang ia katakan aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Kengerian melihat pemandangan itu hanya bisa membuatku berteriak histeris dan sesekali terdengar isakan menyedihkan dari mulutku. Tatapan mataku masih terpaku pada tubuh wanita yang ditarik paksa oleh pria-pria itu. namun bulir-bulir air yang keluar dari kedua mataku sudah membuat kaos pria itu basah kuyup.

Pria itu mengikuti arah tatapanku.

“Tenanglah Irene, aku disini. Tidak ada apa-apa diluar sana. Kakakmu ini tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi.” (OV)

 

Ilustrasi: puplumages.wordpress.com

iklan