Salam berita hangat temsn-teman rotasi, Selamat hari raya Idul Adha buat umat muslim, tepat tanggal 31 Desember yang lalu.

Seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia tentu merayakan Hari Raya Idul Adha, yang merupakan salah satu perayaan penting dalam kalender Hijriah dalam setiap tahunnya. Beberapa waktu lalu Tagar, sempat mewawancarai tokoh agama Aceh untuk menceritakan kembali kisah yang dialami Nabi Ibrahim.

Ibadah kurban memang disyariatkan Allah SWT untuk mengenal sejarah Idul Adha yang dialami oleh Nabi Ibrahim, yang tertuang di dalam QS as-Shaffat, 102-107. Ayat ini mengisahkan saat Nabi Ibrahim bermimpi mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya, Ismail, yang dikisahkan memiliki sifat teramat sabar. Dalam kitab Tafsir An-Nasafi dan Tafsir Ibnu Katsir dicatat bahwa Ismail ketika itu sedang berumur 13 tahun. Pada saat itu, Rasulullah, bersedia dan dengan ikhlas menyembelih putranya atas perintah Allah SWT. Dengan kuasa-Nya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor gibas atau domba, untuk menjadi kurban.

 

Oleh karena itu bagi umat muslim yang memiliki harta berlebih, diharuskan menyembelih hewan kurban. Sebagian ulama bahkan berpendapat, hal tersebut wajib dilakukan bagi orang yang mampu. Namun, ada pula yang berpendapat kalau hukum berkurban ialah sunnah.

Terlepas dari perdebatan itu, dari peristiwa kurban, umat manusia dapat memetik hikmah mengenai pentingnya ilmu ikhlas, di mana Nabi Ibrahim rela menyembelih anaknya, karena sangat menuruti dan atas dasar kecintaannya kepada Allah SWT. Maka, apa pun yang diperintahkan, akan dikerjakan Ibrahim.

Tokoh Agama Kota Lhokseumawe Tgk. Asnawi mengisahkan, Ibrahim memiliki harta yang cukup banyak, lembunya mencapai 1.000 ekor, dombanya ada 3.000 ekor, dan memiliki unta mencapai lebih dari 100 ekor. Namun, ia mengembalikan semua apa yang dimilikinya hanyalah titipan Allah SWT semata.

“Maka saat orang bertanya kepada Nabi Ibrahim, hewan ternak itu milik siapa. Maka ia menjawab, semuanya itu adalah milik Allah SWT, dan kalau Allah menghendaki untuk menyerahkan kepadanya, maka siap saya serahkan,” ucap Tgk. Asnawi. Hari raya kurban menjadi momentum baik untuk saling berbagi antar umat manusia. Namun, di balik itu semua, hari raya kurban juga bisa dijadikan momentum untuk memotong bibit kebencian dan sikap yang tidak baik apabila masih ada dalam diri kita masing-masing.

Saling membersihkan batin, hati dan diri, untuk saling memaafkan berbagai kekhilafan. Banyak makna kehidupan yang bisa dipetik apabila ingin ditelusuri lebih jauh tentang Hari Raya Idul Adha yang bisa dijadikan sebagai pedoman hidup.

Umat muslim di berbagai daerah akan mengawali Hari Raya Idul Adha dengan Salat Id. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban. Nantinya, daging sapi atau kambing akan dibagikan utamanya kepada warga kurang mampu.

Semoga Bermanfaat teman-teman. (IR,CA)

iklan