reginasafri2Terus belajar dan menggali potensi dalam diri serta saling sharing knowledge and experience di dunia fotografi merupakan sebuah terobosan guna mematangkan kemampuan hingga kompetensi dibidang ini. Kali ini, Universitas Bandar Lampung (UBL) melalui Unit Kerja UBL Production menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi pengurus dan anggota berbasis Coaching Clinic Photografi (CCP) 2016.

Manajer UBL Production, Noning Verawati, S.Sos., M.A., menegaskan dalam Diklat CCP 2016 yang diikuti kalangan internal UBL pro dengan mengambil tema Sesi Pelatihan Fotografi Bagi Pecinta Kamera turut menghadirkan pemateri nan kompeten dibidangnya, yakni praktisi Photografi tingkat nasional yang juga Pewartafoto Kantor Berita Nasional Antara, Regina Safri.

“Yeeee, ini dia tamu kita untuk sesi pelatihan fotografi siang ini, Selasa (11-10). Selamat Datang Regina Safri di UBL Pro dan di Kampus tercinta, Kampus Ubl. Selamat bertemu dengan tim kami Ubl Pro,” Ucapnya melalui sosialisasi di media facebook (FB) UBL Pro, yang diakses pada Selasa (11-10) lalu.

Sebagai informasi, terkait pemateri Regina yang bernama lengkap Regina Septiarini Safri atau yang akrab disapa Rere adalah seorang aktivis, fotografer dan wartawati Indonesia. Ia pun berkarier sebagai pewarta foto di Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Dalam kesempatan pemberian coaching clinic kepada UBL Pro, Regina menekankan pada tata cara membidik peristiwa menjadi berita hingga memperkenalkan langkah taktis menciptakan informasi dan melancarkan proses komunikasi lewat bidikan foto.

Wanita 33 tahun itu melengkapi materinya, untuk menjadi seorang fotografer dan juga penyampai realitas fenomena sebagai berita dan informasi harus bersumber dari ketekunan sebagai kuncinya. Selain itu, juru keker (pemoto) bersandar pada catatan dasar pemotoan, mulai dari dibalik lensa, pemaknaan gambar, tangkapan hasil kamera.

“Sampai, sstt jangan sampai lupa ya!, gambar itu harus hidup tidak boleh ada subjek dan objek yang kosong, terutama harus memiliki kandungan komunikasi kepada yang melihatnya,” Cetusnya di Ruang Rapat FISIP UBL, Gedung D lantai 6, Kampus Drs. H. RM. Barusman.

Dalam kesempatan sama, fotografer kelahiran 23 September 1983 ini juga mengingatkan para peserta coaching clinic dengan catatan hidupnya. Seorang fotografer, kalian harus dapat mengintenpretasikan segala hal di kehidupan sehari-hari melalui bidikan lensa foto yang baik.

“Saya sering sampaikan setiap mengisi acara sharing di kampus. Gambar kamera menggambarkan realitas sesungguhnya sehingga dapat menjadi media penyampai informasi yang sesungguhnya kepada masyarakat.  Ini tantangan dan kesempatan bagi kalian (UBL Pro) untuk mewujudkan yang ada didepan mata untuk menjadi bagian tangkapan lensa (kamera),” Jelasnya.

Lebih lengkapnya, penulis 10 lebih karya buku dan 2000 karya foto ini tak hanya memberikan materi, penambahan skill, penanaman motivasi moril disertai praktek aplikasi foto dilapangan. Adanya coaching clinic diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pengurus dan anggota UBL Pro terutama dalam mengaplikasikan secara langsung melalui proses belajar teori, praktek dan evaluasi.

“Karya foto dapat dimaknai teknis dan non teknis. Sebuah foto yang kelihatan mudah ditangkap, namun sulit didapatkan. Keunikan foto, tidak hanya dari cara mendapatkan tetapi harus ada cerita dan makna pengiringnya. Melalui UBL pro, kalian tidak hanya lebih percaya diri sebagai duta kampus penyebar informasi ke publik. Jadi, kalian harus menekuni dunia fotografi,” Pungkasnya. (Rep. BMHK/Ed. AX)

iklan