tari_piring_by_sonbab-d461hai
http://2.bp.blogspot.com

Lelaki menjadi penari itu tidak hina. Menari bukan perkara gemulai atau lentik. Menari tidak hanya sekedar menggerakkan tubuh saja, karena menari membutuhkan ketulusan dari dalam hati. Menari itu menceritakan tentang sesuatu hal menggunakan gerakan tubuh, dengan tujuan pesan yang ingin disampaikan itu tercapai.

Langit lazuardi tengah bersembunyi diawan hitam, tak lama kemudian dewi hujan menangis dengan derasnya. Divo yang berada di jendela pun meratapi tiap tetes air hujan itu dan tak terasa air matanya juga ikut menetes beriringan dengan irama tangis dewi hujan mensyukuri sekaligus menyesali apa yang menjadi pilihan hidupnya.
“Vo, bantu aku!” tanpa mengetuk pintu teman satu kontrakannya nyelonong masuk kamar Divo. Secara spontan Divo langsung mengusap air matanya, ia tak mau sampai ada orang yang melihat dia menangis.
“Bantu apa?” tanyanya dengan sabar.
“Aku pengen liburan nih, bantu aku cariin tempat wisata ya…” Jawabnya ketus. Ringgo nama temannya. Ringgo anaknya memang cuek tapi sebenarya dia perhatian dengan orang-orang di sekitarnya. Mungkin inilah ABG, rasa gengsi masih menjadi prioritas.
“Kamu pengennya tempat wisata yang dimana?” tanya Divo
“Terserah, aku males mikir.” Jawabnya singkat sambil tetap memainkan Hpnya.
“Jangan gitu aku hanya membantu mencarikanmu, kamu yang harus survey langsung tempatnya. Ini kan acara kamu.” Jelas Divo. Divo adalah sosok seorang anak yang beranjak dewasa, namun kematangan berfikirnya sudah tidak diragukan lagi setelah dia diusir Ayahnya dari rumah karena ia bersikeras untuk tetap menjadi penari. Dia sabar dan selalu perhatian dengan siapapun meskipun orang lain tak memperlakukannya seperti itu.
“Ok. Thank ya Bro…” Bruuak dia pergi sambil terburu-buru sehingga pintu kamar Divo tertutup dengan keras. Divo hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap Ringgo.
Divo dan Ringgo hidup jauh dari orangtuanya. Keduanya memiliki latar belakang yang hamper sama, hanya berbeda pada masalah yang dialami.

***

Jam berdentang, *tik tak tik tak* dan Divo hanya berdiam diri sambil melihat jarum jam bergerak. Divo memikirkan suatu hal yang mungkin banyak orang akan merasakan hal ini. Hal itu membuat Divo kadang tidak bisa tidur, setiap hari selalu terpikirkan tentang kedua orang tuanya. Dari namanya saja orang tua Divo sudah tidak mau mendengarkan lagi.
Divo dulu masih seperti orang-orang lain yang sangat mempunyai rasa takut. Setiap hari, diriny selalu dihampiri dengan hal yang menakutkan. tapi, entah setan apa yang merasuk dalam diri Divo, sehingga Divo memiliki keberanian untuk menentang kemauan Divo untuk pertama kalinya. Ayah Divo tidak ingin anak semata wayang nya menjadi seorang penari, apalagi dia adalah calon kepala rumah tangga, Ayahnya tidak ingin menjadi cemoohan orang – orang disekitar rumahnya.
Hampir setiap hari Divo berada disudut ruangan dan semua terasa sangat sepi, banyak yang tidak terbayangkan oleh Divo, dia tidak mungkin menjilat ludah yang telah ia keluarkan. Yang Divo pikirkan pada saat itu hanyalah rasa takut.
“Ayo Vo siap – siap” teriak Ringgo dari ruang tamu kontrakan.
“Kemana?” jawab Divo pelan.
“Hello… sanggar ku kan mau liburan, makanya aku minta kamu cariin tempat wisata, gimana sih” celoteh Ringgo dengan nada terburu-buru.
“Iya tah? Kok kamu gak bilang”
“Udah buruan! Kita mau bertemu dengan keluarga baru untuk kamu sebelum Festival Tari Nusantara bulan depan”
“inget, bawa baju secukupnya dan kolor ya buat renang” imbuh Ringgo.
Mereka berdua enyah dari kontrakan lusuhnya menuju Basecamp mereka yang tidak jauh dari kontrakan, hanya berjarak 300 meter saja. Langkah Ringgo sangat renyah penuh semangat, dan Divo terlihat basih penuh keraguan. Baying – bayang kesalahannya yang menjadi pemicunya.
“Eh, si Ringgo Oon” ucap Shinta Spontan.
“Apa si mbak mendes” jawab Ringgo penuh ledek kepada Shinta kakak tingkatnya disanggar.
“Mbak, ini ada anak baru nih yang mau gabung disanggar kita” imbuh Ringgo.
“Hai Bro…” sapa beberapa orang secara bersamaan.
“Siapa itu On?” Tanya Kak David.
“Ini Divo Kak, temenku saat SMA dlu”
“Oh …”
Memang ketus sekali yang namanya David, karakter sombong dan angkuhnya sudah melekat sejak ia lahir. Padahal disanggar, David merupakan kandidat yang paling tidak disukai, tapi kemampuan dan kepiawaiannya serta pengalamannya tidak ada yang bias menandingi. Dialah penari dengan predikat penata tari terbaik nomor satu di Indonesia. Tidak heran jika sifat itu melekat dirinya. Divo mulai merasa tidak nyaman disekeliling orang dengan pola piker yang susah dipahami. Dan akhirnya Divo memutuskan untuk…………..

Bersambung………  (dn)

iklan