_MG_0193Suasana harmonis yang ditimbulkan dua angkutan jasa di Kota Bandar Lampung yakni Ojek Onlie Gojek degan para pengojek konvensional dibawah naungan Persatuan Ojek Kota Bandarlampung (Pokbal) disyukuri banyak pihak. Tidak terkecuali, dari pemerhati sosial yang juga Akademisi Dosen dan praktisi dari Fakultas Teknik, Universitas Bandar Lampung (FT UBL) Ir. Juniardi, MT.

Padahal sebelumnya pernah terjadinya kasus sweeping yang diikuti pembakaran atribut dari ojek operasional berbasis dalam jaringan tersebut. Juniadi melihat keharmonisan dua jenis angkutan publik roda dua ini, dapatmembangun peradaban transportasi massal di Kota Tapis Berseri, bisa mendekati berbagai kota besar lain secara nasional.“Kejadian sebelum ini banyak (terjadi) didaerah lain, tapi Alhamdulillah sekarang mereka bisa kompak dan imbasnya (dirasakan) dirasakan kita sebagai penguna jasa di Bandarlampung,,” ucapnya.

Terkait aplikasi teknisnya, Pak Jun begitu disapa melihat kemajuan bisnis transportasi panggilan ini, yang berangkat dari kemauan perangkat organisasi yang mengikuti perkembangan teknologi dan meningkatkan akses pelayanan publik.Selain itu, dia juga menyoroti dua jenis angkutan ojek yang hadir bersamaan ini saling mengakomodir keberadaan satu dengan lainnya, dengan saling menghormati akses wilayah wilayah pertarikan. “Hadirnya Go Jek dan transportasi online lainnya bagus, masyarakat jadi mendapat variasi angkutan dan lebih terlayani secara sistematis. Tapi, keberadaan tukang ojek pangkalan (TOP) masih dibutuhkan masyarakat, terutama dilingkup perumahan, yang jauh dari keberadaan bus dan angkutan kota (angkot),”katanya.

Bercermin hal itu, Dosen Teknik Sipil, Fakultas Teknik (FT) UBL itu beranggapan peran Go Jek dan TOP yang bisa dikatakan angkutan umum tersebut, sangat membantu keterbutuhan warga Bandar Lampung. Namun, untuk mempertegas keberadaan kedua jenis ojek itu, perlu ada peningkatan kualitas dari segi pelayanan, penjaminan keselamatan, hingga regulasi teknisnya. “Memang keberadaan keduanya perlu disoroti, dari akses penumpang yang belum menyentuh hingga pedalaman Kota Bandar Lampung. Selain itu, dari luas eksistensi trayek, tingkat pengelolaan perlu lebih efisien, dan hingga perlu ada jaminan dari tingkat pendapatan (ekonomi) hingga perlu ada asuransi kesehatan yang menjadi kebutuhan hidup. Semua hal ini perlu dicarikan solusinya,”tuturnya.

Tak lupa, Juniardi menawarkan gagasan agar kedua jenis ojek itu harus bisa beradaptasi dengan keterbutuhan masing-masing. Dalam sistem kerja, ojek konvensional harus mengikuti pola seperti itu, dengan aplikasi (online). Supaya lebih jelas, terarah dan tidak berbenturan dalam mencari penumpang,”paparnya.Selain itu, agar tidak menimbulkan keresahan lebih mendalam. Mewakili masyarakat Kota Bandar Lampung, Juniardi berharap pimpinan Go Jek dan Pokbal dapat merawat keharmonisan dilevel atas hingga bawah, khususnya antar pengemudi ojek. Selain itu, para pimpinan masing-masing harus peka, mengerti dan proaktif terhadap kesulitan para drivernya dilapangan. “Mereka harus saling menghormati regulasi antar mereka, yang satu menggunakan aplikasi dan satunya bertahan dengan sifatnya tradisional. Keinginan masyarakat berharap kedua angkutan ini saling bersinergis, dalam mengaplikasikan jasa salah satu perhubungan darat dikota tercinta kita ini,”pintanya.

Juniardi juga kembali mengingatkan agar kedua pihak melalui paguyuban naungannya dapat terus bersinergis bersama, maupun dengan berbagai stakeholder dalam berbagai forum yang diakomodir pihak Dinas Perhubungan dan Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas).“Hasil dari kesinergisan ini dijamin akan mendapatkan keputusan yang kuat, mengikat dan saling menguntungkan antar sesama. Jadi semua pihak (konsumen) pihak bisa dilayani semaksimal mungkin dan menghindari friksi-friksi antar angkutan jasa,” Pungkasnya.

iklan