tv
http://astridwiandriani21.blogspot.co.id/2013/10/teori-kultivasi.html

Di zaman sekarang siapa yang tidak memiliki televisi? Sejak ditemukannya televisi pada tahun 1923 oleh John Logie Baird, televisi menjadi media yang sangat digemari masyarakat dari semua kalangan. Bahkan dengan kemajuan teknologi dan informasi seperti sekarang ini. Perpaduan audio dan visual pada televisi membuat penonton hanyut dalam program-program yang ditayangkan stasiun-stasiun TV.

Melalui televisi, kita dapat belajar tentang masyarakat dan budaya yang ada di masyarakat. Dengan menonton program-program televisi, kita belajar tentang dunia dan orang-orangnya, nilai-nilai, serta adat kebiasaannya. Namun, untuk beberapa orang sudah ‘candu’ dengan televisi, adanya televisi dapat mengakibatkan perubahan sikap dan tingkah laku bagi si penonton. Dalam komunikasi, ini disebut dengan kultivasi.

Teori kultivasi berpendapat bahwa pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan. Misalnya, seorang pecandu televisi akan menganggap bahwa setiap penjahat memiliki wajah seram karena pecandu televisi tersebut sering melihat program televisi yang menggambarkan penjahat dengan wajah seram. Mobil Jip identik dengan moobil penculik, dan lain sebagainya. Pecandu berat televisi mempunyai sikap stereotip tentang peran jenis kelamin, dokter, bandit, atau tokoh-tokoh lain yang biasa muncul di televisi dan seringkali dianggap ‘nyata’ oleh pecandu tersebut.

Tentu saja tidak semua pecandu berat televisi terkultivasi dengan cara yang sama. Ada faktor-faktor lain di luar tingkat keseringan menonton televisi yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang tentang dunia serta kesiapan seseorang untuk menerima gambaran dunia di televisi sebagai gambaran dunia yang sebenarnya.

Jadi, meskipun televisi bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk pendangan kita tentang dunia, televisi merupakan salah satu media yang paling ampuh terutama bila kontak dengan televisi sangat sering dan berlangsung dalam waktu yang lama. So, menonton TV memang perlu tapi tidak harus berlebihan dengan seharian di depan televisi. Sekali-kali diperlukan pengamatan langsung di dunia yang sebenarny. (Rep. OV/Ed. DN)

Source: Komunikasi Massa: Suatu Pengantar oleh dr. Evinaro Ardianto, M.Si

iklan