Sosok DanielMenjalani hari demi hari dengan senyuman yang selalu terpancar di wajahnya, seakan tidak pernah ada masalah yang datang menghampiri di kehidupannya. Berbagai macam pengalaman hidup telah membentuk karakter santun didalam dirinya. Daniel, sapaan akrab seorang anak lelaki berumur 23 tahun yang telah berkerja dan memenuhi kebutuhan hidup untuk dirinya dan keluarganya. Kerasnya kehidupan yang harus dijalani tidak memandang berapapun usia yang melekat pada seseorang. Semenjak umurnya 16 tahun, ia sudah harus pandai membagi waktu antara berkerja dan menimba ilmu di bangku sekolah.

Dibalik sosok Daniel yang sangat tegar dan kuat dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, terdapat seseorang yang selalu memberikan dorongan dan motivasi. Sosok ini adalah seorang Ibu. Walaupun kala itu, kondisi ibunya yang sedang sakit tetapi keinginan untuk melihat seorang anak laki-lakinya agar memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya menjadi penguat batin dari seorang Daniel dalam mengarungi kerasnya kehidupan selama ini.

Sebuah pesan dari seorang ibu untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya, telah memantapkan niat Daniel untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Semangat dari seseorang yang ingin mengubah nasibnya sendiri menjadi lebih baik pun akhirnya tercapai. Tepat pada tahun 2013, Daniel pun diberikan kesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi melalui sebuah program beasiswa di salah satu Universitas Swasta terbesar di Provinsi Lampung.

Perjalanan hidup yang harus ditempuh oleh Daniel memang sangatlah berat. Berbagai halangan dan cobaan yang diterimanya ketika memasuki tahun pertama di bangku perkuliahan, akhirnya menuntut Daniel untuk berhenti menimba ilmu di jenjang pendidikan tinggi. “Bukan kemauan saya untuk berhenti kuliah, namun keadaan yang menuntut. Tapi saya merasa bangga sudah pernah merasakan perjalanan di bangku kuliah. Saya pun masih ingin kuliah, walaupun entah kapan akan terwujud,” ujarnya.

Kini, setelah ia memutuskan berhenti dari bangku perkuliahan, Daniel pun kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga keluarganya. Berbagai pekerjaan ia lakukan hanya untuk keluarga kecilnya, meskipun ia harus mengorbankan keinginannya terbesarnya untuk berkuliah “Diumur 23 tahun ini, saya sudah merasakan pahit manisnya kehidupan, itu semua saya lakukan demi keluarga. Keluarga itu bagi saya seperti cahaya yang selalu menyinari hidup saya,” pungkas Daniel. (Rep. DN/Ed. AX)

iklan