googleofcodeDemi memperkenalkan kajian keilmuan mengenai Besut Kode Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Bandar Lampung (UBL) bekerjasama dengan Wikimedia Indonesia menggelar Seminar Besut Kode Universitas di tingkat Provinsi Lampung. Dekan FIK UBL Ahmad Cucus, S.Kom.,M.Kom., menegaskan pentingnya pengkajian materi tersebut karena bahan besut kode ditujukan untuk sivitas akademika khususnya para mahasiswa dibidang studi tidak hanya FIK tetapi juga Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA).

Cucus menegaskan kedua Fakultas ini bersinggungan dengan besut kode komputerisasi terutama dalam penyelesaian masalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di spesifikasi program studi Sains, Teknologi Informasi, Matematika, Biologi, dan perkembangan pertanian (science, technology, engineering informatics, mathematics and Agricultural development). “Mereka yang dikhususkan harus mengusai bidang ini memang jurusannya, yang menguasai bahasa pemrograman baik internal maupun eksternal,” Ujarnya di Auditorium Pascasarjana Kampus Dra. Hj. Sri Hayati Barusman, Sabtu (1-10) lalu.

Seminar Besut Kode di UBL diisi dua pemateri kompeten yakni praktisi dan mentor di Google Summer of Code. Pemateri pertama yakni John Martin van den Berg, Ph.D., akademisi Queensland University of Technology, Hendy Irawan, Ph.D., yang merupakan Alumni Google Summer of Code yang juga Koordinator LSKK STEI Institut Teknologi Bandung (ITB).

Diakui Cucus dari pemaparan terkait besut kode sangat diperlukan karena hal ini merupakan online pengembangan perangkat lunak bersumber terbuka untuk memecahkan soal yang diberikan. Operator dianggap mampu menganalisa kode itu tidak hanya berpatokan bakat melainkan juga mampu mengikuti sistem operasional Google CodeIn / Google Summer of Code.

John memaparkan operator besut kode harus memiliki profil berisi karya online mumpuni. Setiap pengembang perangkat lunak terbuka handal harus memiliki rekam jejak karya online termasuk kesempatan memiliki rekam jejak dalam pemecahan Besut Kode lainnya.

John menambahkan dengan mengikuti besut kode, tiap operator mampu menyelesaikan bahkan memaparkan jalan penyelesaian persoalan pertiap fase atau modul menggunakan algoritma rumit. “Mereka itu mampu mengoperasionalkan bagian pengembang perangkat lunak terbuka. Termasuk peninjauan sebuah kode dengan kualitas yang baik vs kode dengan kualitas yang buruk, test-test otomatis terintegrasi terus-menerus mempelajari berbagai bahasa pemrograman, hingga melihat berbagai masalah beragam yang mungkin terjadi dalam perangkat lunak terbuka,”jelasnya.

Sedangkan, Hendy lebih menjelaskan secara teknis bahwa agar menjadi ahli besut kode harus mampu menganalisas sebuah kode yang ditinjau dari segi kualitasnya. Lalu, Mempelajari serangkaian test otomatis terintegrasi terus-menerus, bahasa pemrograman dan berbagai masalah beragam dalam perangkat lunak terbuka pada kehidupan sehari-hari.

“Operator besut code handal harus memiliki petunjuk praktis dan pengalaman langsung pengerjaan proyek perangkat lunak terbuka, dengan tipe pengembangan yang cocok dengan kemampuan diri dalam menyelesaikan persoalan.Termasuk mampu memberikan rekomendasi proyek perangkat lunak terbuka, tidak hanya secara text book tapi bermodal pengalaman optimal secara spesifik dan sesuai keahliannya,” Cetusnya. (Rep. BMHK/Ed. AX)

iklan