sumber ilustrasi : wallpaperscraft.com

Disela simpuh, tak henti kuagungkan asma-Mu, Ya Rabb. Bulir air mata mengiringi butir-butir tasbih. Aku rindu. Aku benar-benar rindu.

Hanya diam.

Senyum getir di jiwa.

Namun tetap diam.

Malam ini Aku terlarut dalam do’a. Berharap dipertemukan dengan Ayah, walau hanya sekejap, walau hanya dalam mimpi, tapi itu hal yang mustahil. Ayah sudah kembali ke tanah. Ayah hanya meninggalkan petuah. Sesak rasanya hati ini bila mengingat tentang kematiannya. Ayah, Anakmu ini rindu. Tak dengarkah bisikku dengan lirih saat aku bersujud ? kembalilah Ayah, hiduplah kembali dan balaslah dendam yang tersimpan. Sia-sia… Ayah tak pernah mendengar dan menggubris bisikanku.

Masih ku ingat tragedi itu.. Saat itu aku masih berumur dua belas tahun ketika Ayahku ditembak kepalanya oleh aparat dengan gagang senapannya. Ayah dipaksa mandi darah. Pelor-pelor peluru itu menghujam kepalanya, tepat didepan mata bocah lanang tanpa dosa hasil dari setetes air hina Ayah.

Gusnadi, itulah nama Ayahku. Orang sekitar Desa Wirasastra sudah tak asing dengan nama itu. Gusnadi orang yang paling disegani, Gusnadi orang PKI, Gusnadi Akhirnya dibunuh mati.

Aku selalu mencoba untuk menghalau kisah suram empat belas tahun silam. Tapi, nama Ayah, Sejarah Ayah, dan Keburukan Ayah masih membayangi hidupku.

“Eh, liat tu anaknya PKI”

“Kenapa gak dibunuh bareng Bapaknya aja”

“Pasti Nanti dia jadi pengganti Bapaknya”

“Anak PKI sudah dewasa”

Aku berusaha menutup telingaku, tapi suara itu mengumpat dalam otakku. Ingin rasanya Aku mengakhiri hidup, agar Aku bisa tenang. Mereka hanya taunya Ayahku salah, Ayahku seorang pembunuh, Ayahku seorang penculik. Mereka tidak pernah tahu kalau Ayahku- lah yang diculik, Ayahku lah lah yang dibunuh, padahal Ayahku tak pernah bersalah.

Aku ingat !! Akan selalu Aku ingat. Tepat dihari ulang tahunku yang kedua belas, Aku memang sengaja untuk tidak meminta hadiah kepada Ayah. Hari itu Ayah sangat sibuk mengurus sengketa tanah. Tanah milik rakyat tapi direbut pemerintah, Ayah tidak rela, karena ia juga rakyat. Ayah berusaha memperjuangkan hak rakyat, sampai-sampai ia lupa hari ulang tahunku.

“Bu, ayah kemana?” tanyaku pada Ibu.

“Ayah lagi kerumah pak Lurah le”

“Ayah gak inget ulang tahun Bimo Bu?”

“Siapa bilang Ayah gak inget ulang tahunmu, tadi Ayah menitip pesan ke Ibu, untuk ngucapin selamat ulang tahun ke tole

“Yang bener Bu, tapi tadi pas ketemu Bimo, Ayah diem aja Bu”

“Sengaja diemin Bimo, untuk kejutan, nanti malem Pasti Ayah ngasih kadonya”

“Yang bener Bu?, Ibu gak bohongkan?”

“Bener to le, buat apa Ibu bohong”

Aku pun sangat senang hari itu. Awalnya aku menduga Ayah melupakan hari ulang tahunku, ternyata dugaanku salah. Ayah memang sosok orang tua yang baik dan penuh disiplin. Ayah tidak pernah membiarkanku manja, cengeng dan tak mandiri. Dihari ulang tahunku yang kedua belas, hanya satu doa yang sempat kupanjatkan, Aku ingin seperti Ayah, menjadi orang yang berguna bagi orang banyak.

“Bimo, ayo ikut Ibu kerumah Bude Parmi” ucap Ibu dari luar pintu kamar.

“Ngapain Bu, ketempat Bude Parmi, mau bantu bungkusin kerupuk opak Bu?”

“Enggak le, Kaki Bude Parmi kegelincir dikamar mandi”

“Iya Bu, Bimo ganti baju dulu, Ibu tunggu diteras aja”

“Iya, jangan lama-lama ya le

Terdengar langkah kaki Ibu sudah berlalu dari depan kamarku, Aku segera menanggalkan bajuku dan mengambil kaos hitam kesayanganku digantungan lemari. Aku segera enyah dari kamar menuju teras. Tapi langkahku terhenti diruang tamu. Aku mendengar Ayah sedang berbicara pada Ibu, namun suaranya pelan, seolah agar aku tak mendengar. Aku pun menguping. Aku penasaran apa yang sedang beliau katakan.

“Sebaiknya Ibu cepat pergi. Ibu pulang kerumah Bapak disumatera dan bawa Bimo, besarkan Bimo dengan penuh kasih sayang Bu” saran Ayah kepada Ibu mengetahui Ibu belum juga pergi meninggalkan rumah.

“Apa Ibu sangup membesarkan Bimo sendiri tanpa Ayah?” jawab Ibu sambil terisak.

“Ayah yakin sama Ibu, sudah, cepat pergi jangan ditunda-tunda, Ayah sangat sayang Ibu dan Bimo”

Ayah terlihat semakin panik saat mengetahui Ibu belum meninggalkan rumah membawaku. Aku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Aku bukan anak berumur lima tahun yang bisa dibohongi begitu saja, Aku sudah cukup besar. Akhirnya Aku menyusun strategi drama, Aku akan tetap ikut Ibu pergi, namun diperjalanan nanti Aku akan turun tanpa sepengetahuan Ibu, Aku ingin meminta kejelasan Ayah, apa yang sebenarnya terjadi. Ayah pasti tak mau menjelaskan bila ada Ibu. Tapi Aku yakin jika nanti Aku datang langsung dan sendiri, Ayah pasti menceritakan semuanya kepadaku.

“Bimo …” panggil Ibu dengan nada tegas.

Aku langsung berlari tanpa menjawab.

Tanpa banyak bicara Ibu segera mengajakku pergi, tanpa berpamitan dengan Ayah. Ibu terlihat sangat tergesa-gesa. Aku semakin penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi. Ini Berarti kerumah Bude Parmi hanya alasan Ibu saja agar Aku mau ikut pergi. Aku hanya diam, tapi niatanku yang sudah Aku susun tidak berubah. Ibu memberhentikan sebuah mobil bus dari pinggir jalan. Tak lagi sempat Ibu berbicara, Ibu langsung menarik tanganku untuk naik kedalam bus.

“Bimo dipinggir sini aja bu” ucapku sambil menunjuk kursi disebelah jalan keluar masuk.

“Ya udah, Ibu yang disebelah jendela” jawab Ibu pasrah.

Aku sedikit lega, rencanaku terlihat mulus, kalau saja Ibu memaksaku untuk duduk disebelah jendela pasti gagal total rencanaku untuk turun. Bus melaju dengan santai. Kuhela nafas dengan perlahan. Rasanya sangat pengap sekali suasana dibus. Kutengok kesamping, Ibu tengah menyandarkan kepalanya kejendela. Berusaha menghempaskan segenap peluh yang ada. Kelopak mata Ibu yang mulai kendur mulai memejam, membuat Aku tak tega meninggalkan beliau. Tapi, niatku sudah bulat. Aku segera berdiri pelan, dan kuambil langkah seribu untuk meninggalkan Ibu didalam bis.

“Mau kemana mas? Ini gak bisa berhenti busnya” ucap kondektur.

“Udah Pak gak usah berhenti, Aku loncat aja”

“Mas …”

Tak kuhiraukan ucapan kondektur. Aku sudah berlalu melompat keluar. Aku terjatuh. Kepalaku sempat terbentur batu . Aku terdiam sejenak. Kunang-kunang sedang menari dikeningku. Kudongakkan kepalaku, ternyata raja siang sudah bersembunyi dibalik awan tebal.

Mulai gelap.

Penuh kelesah.

Sudah tak lagi Aku memikirkan nasib Ibu yang Aku tinggal sendirian dibus. Aku berlari menuju rumah di Desa Wirasastra. Nafasku tersengal-sengal, tapi Aku tetap tak menghiraukan. Aku harus segera sampai dirumah. Ayah saja belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun, kata Ibu malam ini Ayah akan memberikan kado untukku. Aku berhenti sejenak, terpaksa aku mandi keringat. Adzan magrib mengiringi jalanku. Ternyata sudah jauh juga perjalanan yang Aku tempuh. Sekuat tenaga Aku tetap bertahan. Rumahku tepat diujung jalan, pagarnya cat hijau daun sudah terlihat sampai sini. Aku lega. Aku terus berlari sampai didepan pagar. Tepat dipintu gerbang rumahku.

Aku melihat beberapa orang dengan perawakan gagah mondar-mandir didepan pintu rumah. Kubuka pintu gerbang, lalu dua orang itu serempak lari menerkamku, dipegangnya tangan ku, dan Aku diseret masuk kedalam rumah. Aku ketakutan. Aku hanya mampu berteriak sekuat tenaga. Suaraku habis. Aku terus menangis. Aku terperangah ketika melihat Ayah digantung terbalik diatas pintu. Mereka para bajingan itu memukuli Ayah. Ada lebih enam orang yang menyiksa Ayahku, tangan kanan mereka memegang pistol. Baju mereka sama, warna coklat muda. Dengan tulisan yang tak jelas kubaca, yang pasti ada tulisan Negara Indonesia.

“Jangan kau apa-apakan anakku !” teriak Ayah.

Mereka hanya tertawa gurih.

“Terserah kau siksa dan kau bunuh aku, asalkan jangan anakku, biarkan dia pergi dengan hidup” pinta Ayah dengan nada memelas.

“Ayah …, ada apa Ayah? Mengapa bisa begini ? Bimo sayang Ayah” ucapku dengan tangis terisak.

“Biarkan anak bangsat ini mendekat keAyahnya” ucap salah seorang dengan kumis tipis.

Aku berlari menuju Ayah setelah tanganku dilepas oleh para keparat itu.

“Kamu kenapa pulang kerumah le?” tanya Ayah pelan.

“Kata Ibu, malam ini Ayah mau ngasih Bimo kado dan ucapan selamat ulang tahun ke Bimo Yah”

“Bimo hari ini ulang tahun ya, yang ke sebelas ya Bimo?”

Aku diam.

Suasana hening.

“Bimo dua belas tahun hari ini Yah, Ayah lupa?”

“Maaf sayang, Ayah tidak lupa, Ayah hanya sedikit lelah”

Kata-kata Ayah terakhir membuatku terenyuh, darah segar mengalir dari hidung Ayah, menetes kelantai dan membentuk anakan sungai. Ayah babak belur. Ayahku dihakimi tanpa alasan.

“Susullah Ibumu Bimo, kamu harus bisa membuat Ibumu bangga”

“Enggak Yah, Bimo mau nemenin Ayah”

Salah seorang dari bajingan itu mengambil vas bunga diatas meja lalu melemparkannya didekatku.

“Sudah cukup sandiwara kalian. Hei kau Gusnadi, kalau kau mau hidup tenang, gak usah sok jadi pahlawan ingin membantu rakyat yang tak tau diri. Toh mereka tak pernah memikirkan tentang nasibmu bukan?” ucapnya dengan nada tinggi.

“Sudah tak usah banyak oceh, bunuh saja aku sekarang” ucap Ayah.

“Jangan sakiti Ayahku” teriakku.

Orang bangsat itu menendang kepala Ayah. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Aku ditarik paksa dan diseret. Aku hanya berteriak-berteriak dan menangis.

“Ayah …”

Ayah hanya diam dan memejamkan matanya yang penuh luka.

Dua pelor-pelor peluru kendor menghujam Ayah. Ya, Tepat dikepala.

Aku diam.

Aku melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri.

Mereka tertawa.

Mereka berlalu meninggalkan ku dan Ayah, dan meninggalkan dua pelor yang telah menembus kepala Ayah.

“Ayaaaaaaaahhhhhhhh …………” teriakku histeris.

Kupeluk Ayah erat-erat. Air mataku membeningkan wajah ayah yang berlumuran darah.

“Ayah, Aku janji untuk menjaga Ibu, dan Aku janji membalaskan dendammu Ayah!”

 

Beberapa tahun kemudian…

 

“Bimo, makan malam dulu, anak sama istrimu sudah menunggu” panggil Ibu dari luar kamar.

Aku terhanyut dalam lamunan sepiku malam ini, mengenang masa-masa yang membuatku geram. Kini dendam dan amarah sudah kuleburkan demi cucumu, Ayah. Cucumu gagah Ayah. Ferlano Mahardika Gusnadi, itu nama cucumu Ayah. (DN)

iklan