MEMENUHI STANDAR : Laboratorium Komputer FIK UBL di Gedung E, Kampus A Drs.H.RM Barusman siap menggelar UNBK bagi SMA sederajat di Lampung, karena memenuhi standar kelayakan lab dilevel nasional. (Dok.Foto DHS/BMHK UBL)
MEMENUHI STANDAR : Laboratorium Komputer FIK UBL di Gedung E, Kampus A Drs.H.RM Barusman siap menggelar UNBK bagi SMA sederajat di Lampung, karena memenuhi standar kelayakan lab dilevel nasional. (Dok.Foto DHS/BMHK UBL)

Masih terbatasnya Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat yang memiliki perangkat komputer maupun jaringan, yang dipergunakan untuk Ujian nasional Berbasis Komputer (UNBK). Memunculkan opini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung yang berharap setiap Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas dan program studi Ilmu Komputer untuk membantu meminjamkan unit perangkat atau menggelar UNBK dikampus bersangkutan.

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bandar Lampung (FIK UBL) melalui Kepala Laboratorium Komputer Robby Yuli Endra S.Kom., M.Kom., mewakili Dekan FIK Ahmad Cucus S.Kom, M.Kom akhirnya angkat suara. Mewakili instansi, Robby berujar mendukung peluncuran wacana tersebut. Meski demikian, UBL belum berani melangkah karena belum ada informasi ataupun permintaan langsung, dari pihak Disdikbud Lampung maupun pihak sekolah. “Kita (UBL) sebagai perguruan tinggi siap, jika harus ditunjuk. Asal keluar Perda dan surat kuasa penunjukan tetapi, semua tergantung persetujuan pimpinan kita ditingkat Fakultas (Dekan), universitas (Rektor bersama wakil rektor)maupun Yayasan (Administrasi Lampung/YAL),” Jelasnya, di Gedung E, Kampus Drs. H. RM Barusman, Kamis (23/2) lalu.

Robby jelaskan, jika UBL menyelenggarakan UNBK. Maka UBL memliki 2 lab komputer proporsional dan sesuai standar nasional. Tiap lab bisa menampung 60 unit komputer (PC) beserta perangkat infrastruktur lainnya.“Memang lab ini belum pernah digunakan kearah itu (UNBK). Tapi, sejak 2010 hingga kini FIK UBL sering mengundang sekolah, yakni guru dan siswa mendalami aplikasi komputer terbaru termasuk dalam mengendalikan, mengontrol, hingga mengoperasionalkan perangkat. Kita juga punya program sekolah pembinaan, yakni aksi pengabdian keliling, membuat web sekolah, hingga mengundang praktek lapangan,” Ujarnya.

Robby juga menyoroti peran operator yang dapat memegang regulasi UNBK 3-5 sekolah perwilayah. Hal itu menyebabkan UNBK tidak efesien. Solusinya, yakni pemberdayaan peran guru sekolah, tidak mesti guru komputer sebagai operator UNBK. Meski demikian, kedepan, Robby berharap UNBK dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan kualitas-kuantitasnya dikarenakan banyak manfaat bagi siswa, guru dan sekolah. (Rep. BMHK/Ed. AX)

iklan