grateful - Copygrateful - Copy

Aku menghadapi suatu kenyataan bahwa saat ini aku tengah berperang melawan diriku sendiri. Ini rasanya jauh lebih sulit dibandingkan bila aku menghadapi orang lain sebagai lawanku dalam sebuah pertandingan. Musuh terbesarku adalah jiwa dan ragaku sendiri yang terlalu sulit untuk kukendalikan saat ini. Aku terlalu betah dengan penawaran menarik dalam kehidupanku untuk menikmati masa muda dengan bersenang-senang. Bersenang-senang yang tidak memberikan janji dan jaminan untuk masa depanku kelak.

Jiwa mudaku seakan seperti bocah yang hanya diisi dengan permainan dan kesenangan sesaat. Ya. Aku seakan mempermainkan diriku sendiri. Aku melihat cerminanku yang begitu buruk. Pernah terhempas di masa lalu yang buruk, kemudian bangkit, dan lalu terlena dengan kenyamanan yang kuperoleh saat ini. Aaaarrrghhh… mulai kurasakan cambuk-cambuk masalaluyang memaksaku untuk segera bangun dan sadar kembali. Membuka mata selebar-lebarnya untuk melihat dunia yang mulai menuntutku untuk bergerak. Mereka selalu berbisik “Hidupmu semakin singkat, waktumu semakin singkat.” Lalu mereka tertawa seolah-olah mengolokku. Panas hatiku. Ingin rasanya kuteriakkan dalam teduhnya senja yang pernah menemaniku di perbatasan bukit di ujung sana.*

Aku merenung. Aku mulai membuka lembar demi lembar kertas lusuh yang nyaris tak pernah kujamah lagi. Warnanya mulai menguning. Sudah lama aku tidak menyentuhnya. Ya. Aku terlalu sibuk dengan kecanggihan teknologi yang selalu menggoda naluriku untuk selalu update dan membuat makhluk dunia maya mengetahui gerak-gerikku. Aku nyaris melupakan sosok yang sejak kecil menemani hariku dan tak pernah membuka rahasiaku kepada yang lain. Hanya aku, dia, dan Tuhan yang tahu tentang segala kisah yang kulalui sampai saat ini.

Muak. Aku mulai muak dengan diri ini. Betapa bodohnya aku melupakannya. Lembaran yang setia menyimpan setiap perkembangan ukiran jemariku sejak aku mulai menduduki bangku sekolah. Meski mereka bilang ‘sudah tidak zaman’, bagiku dia adalah sebuah kebutuhan dan bagian dari sisi pribadiku yang sangat penting dalam hidupku. Dia mengenalku lebih dari mereka mengenalku. Aku rindu. Kupeluk diary kecil berwarna biru yang menjadi tempat berbagiku setelah Tuhan. Aku ingin mengulang kembali mengisi waktu kosongku dengan dia. Hanya berdua.*

Angin meniup lembaran demi lembaran dan berhenti pada selembar kertas bertanggal 16 Juli 2009. Aku terdiam. Tulisan itu memaksaku untuk memutar kembali memori di kepalaku. Rabu kelabu. Kuhembuskan nafasku. Panjang…..

Itu bukan awal segala kebencianku pada sesuatu. Tapi awal dimana aku harus siap dengan kenyataan bahwa duniaku telah berubah. BERUBAH!!!

Tidak! Aku tidak ingin menangisi masa itu lagi. Terlalu kejam! Aku bahkan mengucapkan beribu terimakasih untuk kekejaman itu. Aku tidak selemah yang mereka bayangkan.*

Kututup kembali diary itu. Desahan nafasku terasa berat. Aku hanya ingin suatu kekuatan lagi. Kekuatan dan semangat yang membara ketika aku berperang saat itu. Perang yang menghantarkanku hingga sampai ke tempat ini. Dan di tempat ini perang itu semakin dahsyat mengobrak-abrik pikiranku. Aku tidak ingin mengulang kekelaman masa lalu. Aku ingin sesuatu yang ekstrim untuk mendobrak jiwa dan ragaku. Peperangan ini harus dimenangkan.Masih ada waktu untuk membasmi musuh-musuh kemalasan dan kuman-kuman penghasut di masa mudaku. Sekarang! Detik ini juga!

Aku pemuda, jiwaku masih muda, ragaku masih kuat, waktuku masih tersisa untuk memoles kembali sisa kepingan masa lalu dengan secercah harapan dan masa depan yang gemilang. Dia menantiku disana. Dan aku tahu,diatidak ingin berlama-lama menunggu langkahku untuk sampai disana dan mengubah duniaku. Kuruntuhkan tembok pembatas penghalang cita-citaku dan dengan langkah pasti aku berjalan lebih cepat dan semakin cepat.Peperangan ini akan segera berakhir. Tunggu dan saksikan ketika aku menjadi seorang pemenang yang sesungguhnya. Matamu akan membelalak seakan ingin keluar dari pelupuk matamu. Olokanmu akan berganti dengan decak kagum yang tak ada habisnya. Kau, dunia yang pernah menjadi pengiris hati dan sekaligus pembangkit energiku untuk bangkit.*

(PM)

iklan