semangat2

Jalanan itu sepi. Hanya tampak barisan pepohonan rindang di pinggir jalan. Awan gelap mulai menyelimuti bumi. Gemuruh petir membahana di sore itu. Sepasang kaki terlihat melangkah cepat menapaki tanah yang mulai basah oleh air hujan. Kaki itu hanya dilapisi sandal jepit yang terlihat kusam dan nyaris rusak. Dalam hitungan menit, kaki itu semakin cepat berlari menghindari tumpahan air hujan yang semakin lebat.

Derasnya hujan menambah kesesakan hati Esra yang baru saja kehilangan impiannya. Cita-cita untuk bisa mendapatkan beasiswa di universitas yang menjadi kebanggaannya, kini harus terkubur untuk ketiga kalinya. Entah apa yang ada dibenaknya saat ini, dengan tatapan kosong dia menatap lurus ke depan. Kaki itu terus melangkah tanpa henti. Semakin jauh dan akhirnya hilang tersapu kabut.*

Pukul 23.50 wib.

“Sudah jam segini belum pulang juga. Anak gadis macam apa jam segini masih berkeliaran di luar!” geram sosok lelaki separuh baya sembari melirik keluar dari balik jendela. Wajahnya menyiratkan amarah yang sudah tertahan sejak beberapa jam yang lalu. Lelaki itu tampak gusar di dalam rumah berukuran kecil dan sederhana. Gertakan giginya terdengar sangar membuat seorang perempuan tua takut dan hanya bisa bungkam seribu bahasa.

Berkali-kali perempuan itu menelan ludah dan tertunduk kaku, tidak berani menatap sang suami yang sedang dilanda murka. Tubuhnya yang kurus tampak gemetar ketakutan. Sikapnya pasrah sambil menantikan gadis semata wayangnya pulang. Sekilas melirik jam tua di dinding yang retak dan sudah menunjukkan pukul 00.30 wib.

“Kamu tunggu sampai anak kamu itu pulang!” bentak sang suami menatap sinis padanya. Lelaki itu berjalan menuju kamar untuk beristirahat. Sepertinya Beliau sudah lelah menantikan anak yang tak kunjung datang. Sikapnya mulai berubah semenjak usahanya mengalami kebangkrutan sampai akhirnya harus menjual harta benda miliknya.

“Esra, kamu dimana, nak?” isaknya penuh sesal. Seandainya saja dia tidak ceroboh membakar berkas-berkas persyaratan beasiswa Esra di hari terakhir pengumpulan berkas, mungkin saat ini anaknya sudah berstatus mahasiswa beasiswa. Rasa bersalah dan khawatir kini melanda hatinya.*

Sinar mentari pagi dari balik jendela kaca mengusik tidurnya yang kini terbalut selimut tebal dan hangat. Sejenak dia mendesah. Dia menatap langit-langit kamar berdinding putih bersih dengan tatapan hampa. Wajahnya masih tampak kusut dan tidak bergairah. Dia benar-benar menyesali kecerobohan ibunya. Pupus sudah harapannya bisa kuliah dengan beasiswa. Tanpa beasiswa, dia tidak akan bisa kuliah dengan situasi perekonomian keluarganya yang sedang sulit. Ayahnya kini hanya mengandalkan tenaga menjadi seorang kuli bangunan dengan hasil yang tidak seberapa. Sementara ibunya hanya seorang tukang cuci yang tidak tetap. Dia masih memiliki dua orang adik yang masih duduk di bangku SD dan SMP.

“Hhhh….”, desahnya panjang.

“Esra, kamu sudah bangun?” suara lembut menyapanya pagi itu. Perempuan itu membawa segelas teh hangat dan semangkuk bubur ayam. Senyum menghiasi wajahnya yang masih tergolong cantik di usianya yang sudah menginjak 53 tahun. Dia seorang perawan tua yang menghabiskan hari-harinya dengan berdagang bubur ayam setiap pagi di teras rumahnya. Namanya Tante Icut. Dia lebih senang dipanggil dengan sebutan demikian. Tidak ada yang tahu mengapa perempuan secantik dia memilih untuk tidak menikah dan hidup menyendiri.

“Sarapan dulu. Nanti kamu sakit. Kalau perut kamu sudah diisi, pikiran kamu akan lebih stabil”, ujarnya penuh kasih. Kedua perempuan ini sudah lama menjalin hubungan yang baik. Tante Icut adalah sosok teman yang paling setia di mata Esra. Bahkan sudah lebih dekat dengannya dibandingkan dengan ibunya sendiri. “Sosok ibu yang sebenarnya kutemukan pada dirinya, bukan pada ibuku sendiri”, salah satu kalimat curahan hatinya yang terukir di lembar diarynya.

Esra masih membisu menikmati sarapan paginya. Sampai makanan itu habis, tidak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Sejenak dia menatap tajam perempuan separuh baya itu. Dan beberapa detik kemudian, dia menangis dan memeluk erat Tante Icut. Sambil menepuk-nepuk punggung gadis yang sudah dianggap putrinya sendiri, Tante Icut memberi kekuatan kepada Esra.

“Tante tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Esra. Tidak ada yang perlu disesali. Itu hanya sebuah ujian supaya kamu semakin termotivasi untuk bisa meraih cita-cita kamu. Tetap berjuang, nak. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan selama kamu bisa bangkit dari keterpurukan kamu. Masih banyak jalan untuk bisa mencapai impian kamu. Bersabarlah”, ucapnya sembari membelai rambut Esra.

“Tapi, tante… ini sudah yang ketiga kalinya Esra gagal. Dan yang paling bikin Esra kecewa karena kecerobohan Ibu. Dari awal Ibu sudah tidak senang kalau Esra kuliah. Dia lebih setuju kalau Esra bekerja. Tapi, Esra cuma ingin kuliah, tante. Esra belum siap untuk bekerja. Esra masih ingin menuntut ilmu setingi-tingginya. Justru karena Esra mengerti keadaan Ayah dan Ibu makanya Esra berjuang mendapatkan beasiswa. Tapi sekarang, semuanya musnah, tante”, tangisnya semakin menjadi di pelukan tante Icut.

“Tapi masih ada jalan lain, nak. Apa yang kamu dapatkan dengan menyesali semuanya dan hanyut terus dengan masalah kamu? Tidak adakan. Yang ada, kamu akan semakin menyesali semuanya dan hidup kamu hanya begini-begini saja. Kalau tante boleh saran, bagaimana kalau kamu bekerja saja. Dari hasil bekerja, kamu bisa membiayai kuliah kamu. Kamukan pintar, jadi tidak terlalu sulit bagi perusahaan untuk  menerima kamu yang memang punya skill. Tante punya kenalan, dan tante sudah membicarakan hal ini dengannya tadi malam. Nanti siang, dia akan datang kesini sekalian ingin bertemu dan berkenalan dengan kamu. Namanya Ibu Mariyani. Kamu pasti senang dengannya. Beliau orangnya baik, dia teman masa kecil tante dulu”, ujarnya panjang lebar dan terlihat bijaksana.

Apa yang dikatakan oleh tante Icut menjadi sebuah hal yang perlu dipertimbangkan Esra. Semua yang dikatakan adalah benar. Sejenak kemudian, dia mulai merenungkan semuanya. Wajahnya sudah tidak terlihat kusut lagi. Segera dia bangkit dari pembaringan dan bergegas membasuh diri di kamar mandi.*

Pertemuan dan perkenalan dengan Ibu Mariyani yang cukup memakan waktu 4 jam membuat perubahan pada diri Esra. Keadaannya semakin membaik dan terlihat senyum bahagia terpampang di wajahnya. Nasihat dan perhatian dari tante Icut mampu memulihkan dan membangkitkannya dari kegagalan.

“Bagaimana? Sudah siap untuk move on?” tante Icut mulai menggoda Esra.

“Siap, tante!” jawabnya bersemangat.

“Kalau begitu, pulanglah. Minta maaf kepada orang tuamu. Kamu sudah membuat mereka khawatir. Ingat, Esra. Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya untuk tidak sukses. Semua orangtua pasti menginginkan anaknya selalu bahagia dan bisa mencapai cita-citanya. Hanya terkadang, keadaan yang membuat mereka tidak mampu mewujudkan itu semua. Kamu sebagai anak, harus mampu memahami itu. Yah.. semua yang sudah kamu alami, itulah yang akan mendewasakan kamu, nak”, katanya bijak.

“Iya, tante. Terimakasih untuk semua nasihat dan pertolongan tante. Esra janji, Esra bisa mengubah semuanya menjadi lebih baik. Dan Esra yakin, Esra bisa mewujudkan apa yang Esra cita-citakan selama ini meski bukan dari beasiswa”, jawabnya penuh keyakinan dan wajah berbinar. Dia memeluk perempuan separuh baya itu erat dan hangat.*

Sepanjang jalan menuju rumahnya, Esra hanya berpikir untuk memulai hidup yang baru. Dia sudah siap dengan amarah Ayahnya dan tangis ibunya ketika sampai di rumah nanti. Karena baginya, amarah dan tangis orangtuanya itu hanya sesaat saja dan akan berganti dengan senyum bahagia saat mendengar kabar gembira darinya ditambah dengan melihat perubahan dirinya menjadi lebih baik.

Life must go on”, gumamnya dalam hati.*

By: PM

iklan