Fritz akhmad nutzir4Beberapa tahun belakangan,seluruh penjuru dunia,semakin banyak terjadi bencana-bencana alam, dipicu oleh fenomena perubahan iklm, seperti kebakaran hutan, yang menimbulkan bencana asap berkepanjangan. Hingga turun salju dengan curah tertinggi dalam 40 tahun terakhir. NASA bahkan telah mencatat dan mempublikasikan sejak Februari 2016, menjadi periode dengan temperatur rata-rata global tertinggi sepanjang masa. Ini bukti nyata seriusnya perubahan iklim ini. Fenomena perubahan iklim ini akan terus berlanjut sebagai dampak dari emisi Green House Gases (GHG), khususnya emisi karbon, yang tak dapat dihindari. Menurut Schipper, sebesar 24% emisi karbon berasal dari pembakaran bahan bakar transportasi, bersumber dari kota.

Proses pembakaran tidak sempurna dalam mesin mobil, menghasilkan bermacam-macam gas beracun termasuk gas karbon, yang langsung berbahaya bagi kesehatan manusia dan tidak langsung menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan lingkungan kota. Menurut Creutzig, emisi dari sektor transportasi ini diprediksi berlipat ganda di pertengahan abad ke-21. Dilengkapi Sperling dan Gordon, yang berujar dalam jangka waktu sama, jumlah kendaraan bermotor pribadi diperkirakan berlipat ganda juga, apabila tidak ada perubahan signifikan.

Creutzig juga berpendapat bahwa, transportasi perkotaan dapat berperan dalam upaya stabilisasi, dan reduksi, daripada emisi. Bila diterapkan dengan tiga strategi penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Pertama dengan terus menerus mengupayakan efisiensi pada industri kendaraan bermotor secara agresif;kedua, melakukan perubahan teknologi dari kendaraan bermotor dari bahan bakar fosil menjadi tenaga listrik; dan terakhir mengurangi pertumbuhan permintaan melalui pembangunan infrastruktur, kebijakan guna lahan, dan perubahan perilaku.

Penerapan strategi yang pertama dan kedua memerlukan biaya sangat tinggi dan waktu cenderung lama.Sedangkan strategi ketiga membutuhkan pengembangan infrastruktur transportasi umum, dengan pola investasi, untuk jangka panjang. Menurut Dulac, investasi pengembangan infrastruktur transportasi rendah emisi dapat menghemat biaya sebesar 20 milyar USD pada 2050 secara global. Terpenting,dapat mengurangi emisi karbon. Cara alternatif lain yang murah secara finansial, yakni menerapkan strategi yang ketiga.Dengan mengembangkan kembali moda transportasi non-motor dalam struktur kota eksisting. Moda pergerakan urban rendah emisi ini seperti berjalan kaki dan bersepeda. Termasuk menjalankan moda-moda ramah lingkungan, dengan memerlukan perubahan perilaku, komitmen, dan intervensi dari pemerintah dan juga warga kota.

Sebagai respon terhadap permasalahan perubahan iklim akibat emisi gas karbon. Perlu, dikembangkan konsep Kota Rendah Emisi Karbon (Low Carbon City). Konsep ini dikembangkan baik Ministry of Land, Infrastructure, and Transportation, Jepang, mengembangkan konsep kota rendah emisi karbon. Dengan tiga sektor yaitu sektor transportasi kota; energy; dan sektor penghijauan. Dalam sektor transportasi dan struktur kota, area perkotaan yang “ramping”, ketika setiap orang dapat tinggal dekat dengan tempat kerja, diharapkan dapat mengurangi jarak tempuh perjalanan sekaligus meningkatkan kebutuhan akan transportasi.

Jarak tempuh berkurang ini, dapa memicu perpindahan dari moda transportasi bermotor ke moda transportasi non-motoris seperti berjalan kaki dan bersepeda. Menurut Midgley, keduanya elemen kunci dalam perjalanan dengan jarak tempuh pendek, dan juga jarak menengah dan jauh. Apabila dikombinasikan dengan dengan sistem transportasi umum yang baik. Investasi biaya diperlukan untuk mengembangkan fasilitas dan infrastruktur bagi pejalan kaki dan pesepeda. Agar jauh lebih murah dengan mengembangkan infrastruktur lain, seperti jalan untuk kendaraan bermotor. Sayangnya, penemuan fakta Hass-Klau, menyebut pengembangan struktur kota sangat bergantung pada penggunaan kendaraan bermotor. Sehingga moda berjalan kaki mulai ditinggalkan oleh warga kota.

Sesungguhnya pengguna moda-moda transportasi lain baik motoris maupun non-motoris diharuskan berjalan kaki minimal dalam satu tahapan di perjalanan.Misal dari rumah ke halte bis, dari tempat parkir kendaraan kebangunan dituju. Ini menjadi dasar utama pemilihan moda berjalan kaki sebagai prioritas utama dalam pengembangan sistem pergerakan perkotaan yang rendah emisi karbon. Saat ini banyak penelitian multidisiplin dilakukan untuk memperkenalkan kembali moda berjalan kaki ke dalam konsep pembangunan perkotaan berkelanjutan. Penelitian-penelitian ini tidak hanya di bidang tata kota, akan tetapi juga di bidang transportasi, kesehatan, dan sosial budaya sehingga menghasilkan beragam temuan mengenai faktor-faktor mempengaruhi pengalaman berjalan kaki.

Harapannya agar faktor-faktor beragam tersebut, dapat disusun menjadi parameter komprehensif mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun strategi panduan perencanaan spatial kontekstual serta implementatif guna mengoptimalkan moda berjalan kaki sebagai sistem pergerakan perkotaan yang rendah emisi karbon sesuai konsep Low Carbon Urban Development. Karena itu, Fritz beranggapan sudah saatnya kota-kota di Indonesia, termasuk di Lampung mengembangkan tata ruang bidang tata kota yang ramah.Tidak hanya di bidang transportasi, tapi juga kesehatan,sosial budaya hingga faktor-faktor Profil Pedestrian yang mempengaruhinya.

Profile Pedestrian memiliki atribut-atribut seperti: umur; pendapatan; gender; moda pergerakan; latar belakang pekerjaan dan pendidikan; modal sosial budaya; tipe pedestrian; hingga penggunaan transportasi umum.Kemudian elemen kunci aktivitas Pedestrian terdiri aktivitas berkaitan dengan berjalan kaki; interaksi sosial; intensitas berjalan kaki; kebiasaan berjalan kaki; dan interaksi moda transportasi.Terakhir yakni elemen Lingkungar Pedestrian, terdiri tata ruang; kecocokan berjalan kaki; daya dukung hidup bertetangga; keamanan berlalu-lintas; fasilitas pedestrian fisik; fasilitas pedestrian non fisik; sampai kualitas lingkungan hidup. (*)

iklan