SAMBUTAN HANGAT : Dosen Pembimbing beserta para mahasiswa Prodi Arsitektur UBL, mendapat sambutan hangat dari Kadisporapar Kota Metro beserta jajaran, dikantor dinasnya, Rabu (19/4/2017). (Dok Foto Fritz Akhmad Nuzir/BMHK UBL).
SAMBUTAN HANGAT : Dosen Pembimbing beserta para mahasiswa Prodi Arsitektur UBL, mendapat sambutan hangat dari Kadisporapar Kota Metro beserta jajaran, dikantor dinasnya, Rabu (19/4/2017). (Dok Foto Fritz Akhmad Nuzir/BMHK UBL).

Fakultas Teknik (FT) melalui Program Studi Arsitektur Universitas Bandar Lampung (UBL), berkesempatan melakukan penelitian dan perancangan destinasi wisata keluarga, bersama Pemerintahan Kotamadya Meto sebagai bentuk penerapan Work-based Contextual Learning.

Terlihat dari keterlibatan diskusi dan sharingnya Dosen Pembimbing Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir, MA., bersama para mahasiswa Arsitektur yang didominasi mahasiswa tugas akhir bersama Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Kadisporapar) Kota Metro, Ir. Yeri Ehwan M.T.“Kerjasama ini, juga menindaklanjuti proses tugas akhir para mahasiswa kami (Prodi Arsitektur UBL). Keterlibatan kami sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan dan permintaan beliau di salah satu kesempatan,” Ujar Fritz yang juga Dekan FT UBL ini, Rabu (19/4) lalu.

Dalam waktu sama, Dosen Pembimbing dan sivitas akademika Prodi Arsitektur UBL bersama Kadisporapar beserta jajarannya membicarakan beberapa topik berkaitan tentang penataan dan pengembangan potensi-potensi beberapa ruang terbuka di Kota Metro.“Seperti Taman Merdeka, Lapangan Samber, Bumi Perkemahan, Dam Raman, dan sebagainya, dalam rangka meningkatkan value wisatanya tentu tanpa mengorbankan kaidah alami lingkungannya. Termasuk, beberapa permasalahan seperti transportasi, parkir, dan keberadaan PKL menjadi tantangan-tantangan khusus dalam desain ruang kota di masa kini dan masa depan,” Paparnya.

Sikap optimis pun terucap dari Kadisporapar Yeri Ehwan yang mengharapkan dari kegiatan bersama Prodi FT UBL, terbentuk kesinergitasan antara Pemerintah dengan akademisi kampus dalam menciptakan terobosan di kawasan publik di Kota Metro.“Di sini (Kota Metro) potensi wisata alamnya memang terbatas, sehingga kita perlu menciptakan wisata buatan yang bervariasi, dan pembangunan panggung ini juga untuk memecah keramaian di Taman Merdeka sehingga lokasi wisata di Pusat Kota tidak terfokus di satu tempat saja,” Pungkas Yeri. (Rep. BMHK/Ed. RTS)

iklan