blog-dandelionMatahari menawarkan sejuta harapan. Ku pandang cahaya yang berkilau, tak bertepi. Samar. Sejak tiga hari yang lalu tak pernah kurasakan sinar yang begitu menyengat, menusuk relung hati yang dalam. Sang surya seakan berbisik, “Jangan sedih, aku datang untukmu.” Hati kecilku menjawab, “Sudah terlambat.”

Goresan awan yang bergaya begitu anggun terbentang luas. Menorehkan kesenjangan yang sempat terusik. Untaian awan itu tersenyum dan menyapa. “Hai… kami datang.” Aku menoleh dan berkata “Tak butuh.”

Seketika segelintir angin menghampiri. Sungguh mencairkan suasana yang kelam namun hanya sesaat. Perlahan hempasan angin nan lembut mengukir tanya “Datang atau pergi ?” tanpa ragu ku menjawab “Pergi.”

Hentikan semua ini. Aku sungguh lelah. “Bagaimana bisa kalian mengabaikan hentakan kata terucap dari mulut yang mulai berbusa ?”. Tak terdengar sekumpulan doa mengalir tanpa henti. Apakah kalian buta atau tuli ? Atau ini yang kalian mau ?. Menghentikan semua yang terjadi seolah itu semua mustahil. Hanya bisa bersolek di genangan air. Tak Nampak.

Aku mulai berjalan tak menghirukan kicauan mereka. Namun matahari tak lelah berbisik “Aku janji, setiap hari aku akan datang untukmu.” Tak mau kalah Awan yang kini mulai memudarkan keanggunannya dengan bentuk yang semrawut mengumbar keceriaan “Siang dan malam aku akan terus menghiburmu, tanpa lelah, Kita akan bermain bersama.” Angin menghentikan langkahku, sambil membacakan segudang pertanyaan “kenapa kau marah ?, Sejak kapan kau berubah seperti ini? ,Siapa yang membuat mu begini ?”

Kemarahanku mulai memuncak, guncangan kata terdengar lirih. “Lihatlah ini semua ulah kalian.” Pemandangan kasat mata meluluh lantakkan jiwa. Sunguh miris. Air setinggi dada orang dewasa menggenangi kawasan sekitar. Raut wajah para penghuni  beragam. Sekumpulan anak asyik bermain air di sekoci tanpa beban. Orang dewasa resah dihidangkan permasalahan semacam ini. Sekumpulan orang hilir mudik mengeringi proses evakuasi.

Aku terus melangkah, tanpa arah, tanpa tujuan. Masih diiringi oleh tiga serangkai. Siapa lagi kalau bukan matahari, awan, dan angin. hingga aku berhenti di suatu tempat dengan aliran air yang luar biasa deras. Entahlah, seketika dadaku terasa sesak. Ledakan amarah lahir kembali. Mata mulai bekaca-kaca, Emosiku benar-benar memuncak.

“Apakah ini penyebab sifatmu begitu dingin ?” tanya angin membuka perbincangan. “Sudahlah tak baik terpuruk lama-lama, lebih baik kita bermain seperti biasa.” Awan kembali menghibur. “Arus sungai inilah yang membuat kau seperti ini, bukan kami.” Ungkap matahari.

Tak secuil pun kutanggapi ocehan mereka. Hanya meneteskan air mata. Ya, hanya itu yang kubisa.

***

Kesedihan ini terus dihantui oleh arus air yang  menggenang di sepanjang sungai. Terpapar sebuah kata “Aku harus pulang, tapi kemana ?” tangisku semakin menjadi. Tatkala teringat kejadian dua hari yang lalu.

Memang, di era modernisasi ini informasi memang sangat cepat menyebar bak arus air yang mengalir dengan gelombangnya. Begitupun informasi bencana alam. Ya, seperti banjir yang menerpa sepanjang kawasan tempat tinggalku. Saat itu sungai di samping rumah meluap, hingga airpun menimpa seketika. Saat itu kedua orangtuaku sedang di luar kota karena urusan pekerjaan. Hingga di rumah hanya aku dan adikku, Jio.

Gerombolan air datang bagai tsunami, itu yang kurasa. Saat itu aku sedang menonton berita di televisi bahwa wilayah tempat tinggalku berpotensi  hujan lebat.Saat itu hujan memang deras sekali hingga akhirnya aku terlelap terbawa arus sungai yang amat dahsyat. Saat itu aku terhuyung-huyung bagai makhluk yang tak bernyawa lagi. Terapit oleh dua batu yang amat keras. Sakit. Aku mulai kehabisan nafas, air benar-benar menguasai tubuhku. Sungguh sesak. Mataku mulai berkunang-kunang sambil bekata “Tolong.. tolong..” Namun tak ada yang mendengar.

Tak sampai disitu, aku mencoba melawan arus. Mulai menggerakan badan menuju tepi sungai. Gagal. Mustahil. Pada akhirnya arus sungai itu membawaku ke alam yang berbeda.

***

Air mata di pipi tak ada habisnya mengalir sama halnya dengan arus sungai yang ada dihadapanku. “Sudah terima saja apa yang menjadi takdirmu”,ucap matahari yang kini masih setia mendampingi. “Jadi, air yang membuatmu seperti ini?” tanya angin mengusik. “Hey air, besar sekali nyali mu.” Awan menyapa gelombang air. Gemericik air dari untaian sungai menjawab “Ya, akulah yang menghanyutkan wanita mungil itu.” Mendengar kalimat itu aku langsung menanggapi “ Kemana kau membawa tubuhku.”

“Entah kemana. Terlalu banyak orang yang telah hanyut bersamaku.” Jawab sepercik air santai. “Hey air Kau itu sudah diangap oleh manusia bagai primadona. Semua tak akan bisa hidup bila tak ada kau, tapi mengapa kini kau berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan dan beraninya kau menenggelamkan orang-orang yang tak berdosa, ya seperti aku ini.” Tanyaku kian menjadi. “Terima kasih atas anggapan itu aku sungguh tersipu mendengarnya tapi apa boleh buat. Tak ada lagi tempat untuk kami gerombolan air untuk pergi kemana. Lihat saja tepi sungai ini tak ada pohon yang dapat menyerap kami.” Air mulai mengumbar kisahnya.

“Iya tapi bukan seperti ini caranya ! Memusnahkan makhluk seenaknya” ucapku ketus. “Ini adalah ulah manusia sendiri, lihat sampah berserakan dimana-mana, pohon di tebang tanpa memilih. Beginilah jadinya.” Air mulai emosi.

Perdebatan aku dan air kian meruncing, namun seketika gerombolan manusia datang ke tepi sungai. Apa mereka mau ikut berdebat bersamaku ? Bukan, bukan itu. Terlihat dari beberapa orang disana terpangpang sekumpulan orang yang amat berharga di hidupku. Ya disana ada Ayah, Ibu, Jio dan Revan kekasihku. Ternyata Jio adikku ,Selamat. Syukurlah.

“Sushi, kau dimana sayang ?” Ibu berjalan tertatih sambil menangis, matanya tampak lebam.

“Sushi… kau dimana nak ?” Ayah teriak kencang dengan rasa sesak menelusuk dada.

“Sushi, ku mohon jangan tinggalkan aku.” Revan berkata halus, raut mukanya tak seceria dulu.

“Lihat, disebelah sana ada tubuh yang mengambang.” Tunjuk salah satu tim SAR Badan penanggulangan bencana.

“Lihatlah mereka adalah keluargaku” ucap ku lirih kepada Matahari yang semakin terik bersinar, Awan yang kian tak berbentuk, Angin menorehkan hembusan penuh misteri dan Air yang acuh tak acuh.

“Mungkin itu kau!” kata Air menebak.

“Semoga saja, tapi aku tak yakin.” Jawabku merunduk.

“Lihatlah bukankah itu tubuhmu.” Ungkap Awan mengagetkan.

Aku berpaling. Ternyata benar. Kini kulit mulusku terlihat mulai membiru, Mahkota kepalaku telah kusut, tak seindah dulu lagi, warnanya berubah menjadi coklat,tak sehitam dulu. Ada yang tampak berbeda ditubuhku itu aku yang di kenal jutek oleh sebagian orang namun terlihat bibir mungil itu tersenyum sangat manis.

“Ayah, ibu, kak Revan… itu kak Sushi” Tunjuk Jio pada tubuh ku sambil memamerkan sejuta kebahagian dibalik kesedihan.

Mereka semua mulai membawa tubuh ku dan aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Tangisku mulai berhenti, amarahku mulai mereda, inilah takdirku.

“Angin… buatlah angin yang kencang, hingga kau hinggapkan Sushi ke awan. Hingga dia dekat denganku mengarungi langit menuju Tuhan” Matahari memerintah awan dan angin. aku hanya diam. Mengikuti.

Seketika angin benar-benar kencang menerpa, hingga keluargaku dan tim SAR terhentak melihatnya. Aku tersenyum lirih pada mereka. Dan berkata “Selamat tinggal, Terima kasih semua”. Kini aku akan terbang bersama sayap malaikatku menuju indahnya taman surga.

Tamat

Oleh    : Gesa Vitara

Editor  : Erni Nur Kholiyani

Penulis Adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Universitas Bandar Lampung

 

iklan