Sumber Ilustrasi : Fotografi UKMBS

Kami diam, mulut kami bungkam, suara tenggelam. Tahun 1999 masa yang suram. Katanya aparat, tapi berubah menjadi keparat kejam. Pelor-pelor kendor tengah menghujam, benda tumpul remuk menghantam”

Sepenggal bait puisi diatas mewakili apa yang terjadi pada tanggal 28 september tahun 1999. Tragedi yang terjadi 15 tahun silam merupakan aksi mahasiswa yang menolak RUU PKB (Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya). Dan dalam aksi tersebut, dua mahasiswa Unila meninggal dunia. M. Yusuf Rizal meninggal tertembak oleh aparat, dan Saidatul Fitria terhantam benda tumpul keras berulang-ulang dan kejadian tersebut terjad di Universitas Bandar Lampung. Atas hal itu, kejadian tersebut dinamakan tragedi UBL Berdarah

Untuk menghormati para martir demokrasi itu, UKMBS ( Unit Kegiatan Mahasiswa Bahasa dan Seni) UBL Pada minggu malam (28/9) mengadakan peringatan 15 tahun UBL Berdarah dengan acara testimoni dan penampilan seni seperti baca puisi perjuangan. “ Acara malam ini adalah testimoni mengenai tragedi 28 september, acara ini kami gagas atas dasar mengenang para korban serta melawan lupa akan sejarah perjuangan mahasiswa yang mempertahankan demokrasi” ungkap Venti selaku ketua pelaksana.

Acara pada malam itu sangat hikmat, para tamu undangan dari berbagai kampus membanjiri kantin UBL yang dimana acara testimoni 15 tahun UBL Berdarah berlangsung. Acara tersebut juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah kota Bandar Lampung, Ketua DPRD Provinsi Lampung, Alumni UKMBS UBL, serta saksi hidup yang berjuang bersama korban 28 september 1999. (DN)

iklan